BAB II 

Buku Catatan Community Organizing Dalam Meningkatkan Perekonomian

Fahmi Reza Dwi Haryanto, M.E

D.       Pengendalian Diri

      Sebelum mengenal lebih jauh tentang perbaikan diri sebaiknya mulai dengan mengenali diri terlebih dahulu atau membangun kesadaran diri. Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali siapa kita sebenarnya, apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, serta bagaimana semua itu dapat mempengaruhi hidupkita. Bayak orang yang menjalani hidupnya seprti autopilot ( bangun, bekerja, makan, tidur ) tanpa sejenak memberi waktu untuk berfikir siapa  saya?, Apa yang sebenarnya saya inginkan?, Mengapa saya merasa seperti ini?.

Tanpa kesadaran diri hidup akan terasa kosong. Kita mungkin sibuk bekerja memiliki banyak aktivitas, tetetetapi merasa hampa karena tidak benar-benar memahami tujuan dan nilai diri sendiri.

Kesadaran diri memiliki fondasi utama dari semua pengembangan diri. Sama seperti seorang arsitek tidak dapat membangun rumah tanpa peta, kitapun tidak dapat memperbaiki hidup tanpa mengenali diri kita terlebih dahulu. Ketika kita belum mengenali diri kita, kita akan sangat mudah terbawa orang lain, yang membuat hidup jadi penuh kompromi, sekedar ikut-ikutan, dan akhirnya kehilangan makna. Sedangkan dengan mengenali kita akan mampu melihat pola dalam hidup, dengan demikian kita akan memahami mengapa sesuatu terjadi seperti mengapa kita gagal dan bagaimana memperbaikinya. Dengan mengenali diri juga akan membuat kita lebih peka terhadap perasaan sendiri maupun orang lain.

Hambatan yang sering kali terjadi dalam membangun kesadaran diri di antaranya seperti:

a.              Kesibukan tanpa jeda. Hidup modern seringkali membuat orang tidak punya waktu untuk refleksi bahkan rileksasi.

b.             Takut menghadapi keslahan. Banyak orang lebih suka menutup mata daripada mengakui kekurangannya.

c.              Lingkungan yang penuh distraksi. Media social, hiburan instan, dan kebisingan sehari-hari membuat kita sulit mendengar suara hati.

d.             Ego dan gengsi. Orang dengan ego tinggi sulit menerima bahwa dirinya punya kekurangan dan kelemahan.

 Setiap manusia dilahirkan dengan potensi, namun tidak semua orang mampu mengembangkan potensinya menjadi kekuatan nyata. Ada orang yang lahir dengan kecerdasan luar biasa, tetetetapi gagal mencapai kebahagiaan karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Ada pula orang biasa-biasa saja, tetetetapi mampu hidup dengan penuh makna karena terus berproses memperbaiki diri.

Di sinilah letak pentingnya pengembangan diri. Ia bukan sekadar wacana motivasi, bukan pula sekadar slogan dalam seminar atau buku-buku populer. Pengembangan diri adalah kebutuhan dasar manusia untuk bertumbuh, menemukan makna, serta meraih kehidupan yang lebih baik.

Hidup di era modern menghadirkan berbagai tantangan. Arus informasi begitu deras, persaingan global semakin ketat, dan standar sosial terus berubah. Jika manusia tidak berusaha memperbaiki diri, ia akan mudah tergerus, kehilangan arah, bahkan terjebak dalam krisis eksistensial. Sebaliknya, orang yang mau berkomitmen untuk tumbuh akan lebih tangguh menghadapi perubahan zaman.

Dalam pengendalian diri ada 3 pilar utama yaitu:

a.              Perbaikan diri dari dalam (internal self-improvement).

b.             Perbaikan diri dari luar (external self-improvement).   

c.              Pengendalian diri (self-control).

Ini adalah jembatan yang menyatukan internal dan eksternal. Tanpa kontrol diri, seseorang akan mudah tergoda, kehilangan disiplin, dan gagal menjaga konsistensi.

Ketiga pilar ini saling terkait. Jika salah satunya rapuh, proses pengembangan diri akan pincang.

Adapun Tantangan Umum dalam perjalanan perbaikan diri. Banyak orang ingin berubah, tetetetapi tidak semua berhasil. Ada beberapa alasan mengapa pengembangan diri sering gagal:

a.     Kurangnya kesadaran diri. Orang tidak tahu siapa dirinya, sehingga sulit menentukan arah perubahan.

b.     Lingkungan yang tidak mendukung. Teman, keluarga, atau komunitas bisa menjadi penghalang bila penuh toxicitas.

c.     Disiplin yang lemah. Tanpa pengendalian diri, niat hanya akan tinggal niat.

d.     Ekspektasi instan. Banyak orang ingin hasil cepat, padahal perubahan sejati butuh waktu panjang.

Dalam buku pengelolaan lingkungan sosial (2005) manusia membentuk kelompok sosial dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan hidup atau kehidupan. Manusia yang pada dasarnya individu sekaligus mahluk sosial akan membutuhkan manusia lain dalam berinteraksi.

Manusia yang dapat berinteraksi dengan baik sesama manusia lain bahkan berinteraksi dengan alamnya maka beban masalah yang di hadapinya akan lebih mudah di selesaikian. Secara mitos hukum alam atau hukum karma manusia yang menjaga sesame manusia atau alamnya maka manusia dan alam akan menjaganya.  Dalam sebuah hukum karma atau hukum sebab -akibat adalah hukum yang berlaku untuk semua mahluk hidup, terlepas percaya atau tidaknya terhadap hukum karma namun secara logisnya memiliki kebenaran. Tidak ada sebuah akibat tanpa ada sebuah sebab, maka dari setiap perbuatan akan memiliki dampaknya hanya bergantung kepada seberapa besar dampak positif dan negatif yang di hasilkan dari sebuah tindakan tersebut.

Manusia di lahirkan dengan memiliki akal dan nafsu sehingga manusia memiliki beragam sifat negatif seperti iri hati dan serakah. Pandangan Mahatma Gandi  “bumi menyediakan cukup untuk kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk setiap keserakahan manusia” memaksa manusia untuk sadar dan mampu dalam mengendalikan dirinya bahwa keserakahan ataupun napsu tidak akan ada habisnya sebelum manusia itu tiada.

Community Organizing (CO) adalah sebuah upaya seseorang atau sekelompok orang untuk dapat mengorganisir masyarakat atau orang lain agar dengan sadar mau dan mampu bergerak bersama dengan satu tujuan yang sama. megorganisir masa dengan baik maka seorang lider atau pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan dengan pengendalian diri yang penuh.

Maka sebelum membahas lebih lanjut terkait Community Organizing hingga memanajemennya agar mampu meningkatkan diri kita atau komunitas sangatlah, penting untuk mempelajari penggendalian diri atau kepemimpinan terhadap diri sendiri terlebih dahulu.

Dengan manusia mampu melakukan sebuah proses pengendalian diri maka manusia itu dalam sebuah proses pembentukan kepemimpinan diri. Proses ini di butuhkan sebagai langkah manusia mampu berinteraksi dengan sesama manusia dan alamnya lebih baik sehingga dapat mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) atau Sumber Daya Alamnya (SDA) yang ada dalam ataupun yang ada diluar komunitas, baik untuk kehidupannya atau kelompoknya hingga sekitarnya.

Ada pepatah yang mengatakan: “Jika kamu ingin mengubah dunia, mulailah dari dirimu sendiri.” Pepatah ini sederhana, tetetetapi mengandung kebenaran yang dalam. Dunia tidak akan berubah hanya karena kita berteriak atau mengeluh. Dunia berubah ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik, lalu menyebarkan pengaruh positif ke sekitar kita.

Perubahan sejati tidak bisa dipaksakan dari luar. Ia lahir dari dalam: dari kesadaran, kerendahan hati, dan keinginan tulus untuk berkembang. Perubahan itu berproses, bukan instan. Kadang ada kegagalan dalam hidup, tetetetapi setiap kegagalan adalah pelajaran berharga untuk dapat mencapi sebuah keberhasilan.

Beberapa cara untuk dapat melatih pengendalian diri atau membangun kesadaran diri secara singkatnya dan sederhananya:

1.             Jurnaling, (menulis harian).

Tulis perasaan, pengalaman, dan refleksi setiap hari. Ini membantu menggali pola pikiran dan emosi.

2.             Mindfulness (kesadaran penuh).

Latihan diri untuk hadir penuh dalam momen saat ini, entah makan, berjalan, atau bahkan bernafas.

3.             Refleksi rutin.

Luangkan waktu setiap minggu atau satu hari dalam satu minggu untuk mengevaluasi apa yang sudah di lakukan, apa yang sudah berhasil, dan apa saja yang perlu di perbaiki.

4.             Feedback dari orang lain.

Tanyakan kepada orang yang di percaya bagai mana orang melihat diri kita sering kali, orang bisa menunjukan sisi yang tidak bisa kita sadari.

5.             Tes kepribadian dan pesikologi.

Bukan untuk mengotak-ngotakan diri, tetetetapi sebagai bahan refleksi. Missal tes MBTI, Big Five Personality, atau StrengthsFinder. Pengendalian diri ini sangat penting dalam menguasai situasi dan kondisi untuk mempertahankan komitmen dan kepemimpinan seseorang yang ingin sesuai sekenario pemimpin ideal.

Beberapa cara tersebut dapat melatih kita dalam penggendalian diri namu Pengendalian diri pada dasarnya sudah di ajarkan atau di perkenalkan sejak kecil, seperti saat menahan lapar saat berpuasa, melatih disiplin dengan baris berbaris, bahkan melatih untuk menghormati orang yang lebih tua. Namun masih  banyak yang belum mampu mengendalikan dirinya baik amarahnya, nafsu, dan pikinrannya.

Pengendalian diri ini dapat di lakukan dengan seseorang mulai mengatur kehidupan baik secara internal maupun eksternalnya dimana pola hidup dan lingkungannya akan mempengaruhi pola berpikir yang merangsang pada suatu tindakan secara berulang dan menjadi sebuah kebiasaan hingga sebuah karakter dari sifat manusia itu terbentuk. Maka pengendalian diri ini dapat dapat di lakukan atau di latih dengan mulai dari dua perbaikan pola hidup  yaitu internal dan eksternal.

Memulai memperbaiki diri, dari internal atau eksternal sama saja namun penulis menyaranrankan untuk sahabat pembaca semua yang sudah dewasa maka dapat memulainya dengan memperbaiki internal diri atau perubahan yang dimulai dari diri sendiri dan dikuatkan oleh eksternal, sebaliknya ketika mengajarkan pada anak yang masih sulit memahami dan belum memiliki pemikiran mandiri dapat dimulai dari eksternal karena seorang anak balita akan merekam setiap halnya sebagai pengetahuan yang dianggapnya semua benar dan orang dewasa akan memberikan keraguan terlebih dahulu sebagai kebenaran. Sederhananya karena orang dewasa sudah mampu untuk berfikir dan berkaca tentang dirinya sendiri dan pembahasan perbaikan diri dari internal atau dalam disri seseorang adalah pembahasan untuk memberikan penyadaran dan pengingat atas adanya kaca tersebut yang menjadi faktor penentu komitmen menolak kemiskinan seseorang. Dengan melakukan intropeksi dan perbaikan diri akan dapat membuat seseorang mampu mengendalina dirinya sendiri.

1.         Perbaikan Dalam Pengendalian Diri Dari Internal

Dalam pengendalian diri yang di mulai dari dalam atau internal maka kita perlu mengenal kesehatan mental, dan emosi karena dengan mental dan emosi yang kuat dapat menjadi salah satu indicator seseorang mampu dalam mengendalikan dirinya. Ketika seseorang mendengar kata “sehat”, kebanyakan orang langsung berfikir soal tubuh, sehingga lebih banyak berfokus kepada olahraga, makan makanan bergizi, tidur yang cukup. Padahal sesehatan mental sangatlah penting dan mungkin lebih penting dari kesehatan fisik minimnya sama penting dengan kesehatan fisik.

Dengan mental yang sehat dapat membantu seseorang dalam membangun kesehatan fisiknya, sebaliknya dengan fisik yang sehat namun mental yang kurang sehat akan dapat merusak kesehatan fisik, seperti beban pikiran berlebihan dan tekanan yang mendalam  akan membuat seseorang sulit tidur atau melampiaskan diri kedalam sesuatu yang dapat merusak diri seperti mabuk dan lain sebagainya sehingga dapat merusak kesehatan fisik. Adapun beberapa contoh lain ketika pikiran mempengaruhi tubuh dan sebaliknya tubuh mempengaruhi pikiran.

a.         Saat kita cemas, Jantung berdetak kencang, tangan berkeringat, dan sulit tidur.

b.         Saat bahagia, tubuh terasa ringan, energy meningkat, system imun lebih kuat dan tidur lebih nyenyak.

c.         Saat kita marah, napas jadi pendek, otot menegang, dan kosentrasi menurun.

Kesehatan mental bukan berarti tidak pernah merasa sedih, marah, atau cemas. Itu semua adalah emosi manusiawi. Namun, kesehatan mental di tandai oleh kemampuan pengelolan emosi dengan bijak, seperti mampu bangkit ketika menghadapi tekanan, mampu menahan nafsu kemarahan, mampu berfikir di setiap masalah yang sedang di hadapi.

Beberapa cara dalam menjaga kesehatan mental.

1.         Kenali dan terima emosi.

Jangan menekan perasaan sendiri, beri nama lalu terima perasaan tersebut. Misalnya, katakana pada diri sendiri “saya sedang sedih karena gagal ujian dan itu wajar.”

2.         Kelola setres.

Gunakan teknik rileksasi: tarik napas dalam, lakukan sendimentasi singkat, atau jalan santai. Setres memang tidak dapat di hapuskan namun masih bisa di kelola.

3.         Tetap aktif bergerak.

Olahraga terbukti mampu meningkatkan produktifitas hormonendorfin yang membuat kita merasa lebih bahagia, dan terlalu banyak tidur atau bersantrai justru mengurangi hormon yang menurunkan kesehatan fisik meningkatkan tekanan dalam pikiran, sehingga seringkali merasa pusing dan malas untuk melakukan.

4.         Membangun pola tidur sehat.

Kurang tidur memperburuk kecemasan dan depresi. Tidur teratur sangat penting bagi kesehatan emosional dan sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik.

5.         Terbuka.

Jangan pendap semua sendiri, mulai membuka dan berbagi terhadap orang-orang yang bisa di percaya untuk mengurangi bebanpikiran dan perasaan atau dapat membuat tulisan jurnal untuk menyalurkan pikiran tersebut.

6.         Cari bantuan professional bila di perlukan.

Konselor, psikolog, atau psikiater adalah sahabat bukan musuh, meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi keberanian.

Kesehatan mental adalah pondasi penting dalam membangun diri. Tanpa mental yang sehat, semua usaha perbaikan hidup akan rapuh. Dengan terjaganya kesehatan mental akan membuat kita siap menghadapi tantangan hidup dan melanggengkan ke tahap pengembangan diri berikutnya.

Setelah memahami pentingnya kesehatan mental, memahami pentingnya motivasi dan tuhuan hidup sangatlah penting sebelum kita membahas pengendalian diri dari dalam. Karema, untuk dapat mengendalikan diri dari dalam bukan hanya dengan memiliki pemikiran yang sehat dan emosi yang terjaga akan tetapi juga memerlukan motivasi dan tujuan hidup untuk mendorong dan memperkuatnya.

Bayangkan sebuah kapal yang berlayar di tengah laut tanpa arah dan tujuan, kapal intu mungkin bisa bergerak, tetapi terombang ambing mengikuti arus. Begitu pula manusia tanpa motifasi-ia hidup bergerak, tetapi tanpa tujuan yang jelas.

Motivasi adalah sebuah bahan bakar yang membuat seseorang dapat bertindak. Tanpa sebuah motivasi, seseorang akan mudah menyerah, kehilangan semangat, dan merasa hidup tak berarti. Namun motivasi saja tidak cukup, motivasi harus harus di arahkan kepada tujuan hidup yang jelas agar energy kita tidak terbuang sia-sia.

Ada beberapa jenis motivasi dan secara umum motivasi di bagi menjadi dua:

1.             Motivasi intenal (Intrinsic Motivation).

a.             Bersumber dari dalam diri: rasa ingintahu, kepuasan pribadi, passion, atau makna hidup.

b.             Lebih tahan lama karena datang dari kesadaran diri.

Contoh: belajar karena suka menambah ilmu, bekerja karena ingin memberi manfaat bagi orang lain.

2.             Motivasi external (External Motivation).

a.             Bersumber dari luar: pujian, pengakuan, uang, atau tekanan social.

b.             Kuat dalam jangka pendek, tetapi sering tidak bertahan lama.

Contoh: belajar karena ingin mendapat nilai bagus atau penghargaan.

Seperti yang di bahas sebelumnya motivasi tanpa tujuan, ibarat mobil dengan bahan bakar penuh tanpa arah tujuan, dapat melaju kencang namun entah mau kemana, sehingga kerap kali terbawa arus atau suasana. Tujuan adalah arah konsep yang menuntun agar energy dan motivasi tidak terbuang sia-sia. Tujuan bisa berada di setiap orang: ada yang mengejar kesuksesan finansial, ada yang ingin bermanfaat bagi otang lain, ada juga yang berfokus pada spiritual, dan masih banyak lainnya.

Cara menentukan tujuan hidup:

1.             Refleksi nilai pribadi, apa yang paling penting bagi kita? Apakah kebebasan, keluarga, ilmu, pengabdian, atau hal lainnya?

2.             Kenali passion dan bakat, hal apa yang membuat kita bersemangat meski saat kita terjatuh?

3.             Melihat pengalaman hidup, tantangan, kegagalan, dan luka masalau seringkali bisa menjadi bahan bakar menentukan tujuan.

4.             Gunakan metode Ikigai(dari Jepang)

Iki gai adalah titik temu dari 4 hal:

a.              Apa yang kita cintai

b.             Apa yang kita kuasai

c.              Apa yang di butuhkan dunia

d.             Apa yang bisa memberikita penghasilan.

Tujuan hidup perlu di terjemahkan dalam bentuk yang kongkret agar bisa dicapai. Salah satu cara yang popular adalah metode SMART:

1.             S(Specific): jelas dan terperinci

2.             M(Measurable): bisa di ukur keberhasilannya.

3.             A(Achievable): realitas dan dapat di capai.

4.             R(Relevant): sesuai dengan nilai dan visi hidup.

5.             T(Time-bound):memiliki batas waktu

Setelah kita memiliki motivasi dan tujuan kita harus mampu menjaganya, dan cara menjaga motivasi:

1.             Bagi tujuan besar menjadi langkah kecil.

Setiap langkah kecil yang berhasil akan memberikan energi baru.

2.             Rayakan Pencapaian

Berikan apresiasi diri setiap berhasil mencapai kemajuan, sekecil apapun.

3.             Gunakan Visualisasi.

Bayangkan diri kitasudah berhasil mencapai tujuan, rsakan emosi dan energy positifnya.

4.             Tetap fleksibel.

Jika satu cara gagal, cari cara lain. Tujuan tetap sama namu jalannya bisa berubah-ubah.

Berikutnya adalah kesehatan fisik, tubuh adalah wadah jiwa. Sehebat apapun pikiran, setinggi apapun spiritual, tanpa tubuh yang sehat kita tidak bisa mewujudkan potensi secara penuh.

Walaupun dengan kekuatan mental atau pikiran mampu mendorong seseorang untuk memiliki kesehatan secara fisik dan kesehatan pikiran mampu membantu menyembuhkan kesehatan fisik akan tetapi, ada batas waktu dan hal yang tidak semua dapat di obati secara penuh. Seperti pikiran positif dapat membantu seseorang dapat pulih dengan cepat namu ketika sudah terlambat dan susah di obati maka kesehatan pikiran tidak dapat berpengaruh besar dalam kesehatan fisik. Maka sangatlah penting menjaga kesehatan fisik.

Untuk dapat menjaga kesehatan fisik perlu menjaga pola hidup seperti pola makan, pola tidur, olahraga dan lain sebagainya dan perlu menghindar halhal yang dapat merusak tubuh seperti merokok, mabuk, begadang dan lain sebagainya

Banyak orang yang baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik ketiak sudah jatuh sakit. Padahal kesehatan adalah modal utama untuk dapat beraktifitas. 

Dengan pikiran dan tubuh yang sehat, pikiran akan jernih dan memberi energy positif untuk dapat memperkuat motivasi dalam mencapai tujuan.

Dalam membangaun kesadaran agar dapat mengendalikan diri dari dalam adalah pendidikan atau pengembangan diri.

Pendidikan adalah jembatan yang mengubah potensi diri dengan peluang hidup. Tanpa pendidikan, seseorang dapat memiliki mimpi besar namun kesulitan dalam mencapainya. Pendidikan bukan hanya sebatas mendapatkan ijasah atau gelar, pendidikan adalah proses dalam membentuk polapikir, menambah pengetahuan, dan melatih keterampilan.

Pepatah lama mengatakan “jika ingin kaya dalam setahun, tanamlah gandum. Jika ingin kaya dalam sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika ingin kaya seumur hidup tanamlah ilmu.

Pendidikan dapat dibedakan menjadi dua, pendidikan formal dan informal (nonformal);

1.             Pendidikan formal, pendidikan yang resmi dan di akui oleh pemerintah, pendidikan formal saat ini sudah ada dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan memiliki fondasi ilmu pengetahuan umum.

2.             Pendidikan  informal, belajar di sekolah dalam bentuk kursus, seminar, pelatihan, atau belajar mandiri. Keilmuannya lebih fleksibel, cepat, dan sesuai kebutuhan praktis.

Untuk dapat meningkatkan keilmuan dan mengembangkan pendidikan dan juga keterampilan dapat melakukan beberapahal seperti, membaca buku dan artikel, mengikuti kursus dan seminar, belajar dari pengalaman orang dan pengalaman peribadi, praktik langsung dari setiap pengetahuan yang di miliki dan juga dapat dari komunita.

Dalam belajar pasti ada hambatan seperti malas, distraksi digital, biaya, takut gagal dan lainnya, namun ketika seseorang mampu mengatasinya maka jalan dalam pengendalian dirinya akan terbuka lebar. Dengan pikiran yang sehat, emosi yang terkendali, tubuh yang sehat, dan memiliki keilmuan yang luas akan mudah mencapai tujuan yang di inginkan.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya Situasi dan kondisi terkadang membuat seseorang kehilangan pengendalian dirinya, dengan hilangnya pengendalian diri atau los control terhadap diri akan memicu tindakan yang tidak produktif dan tidak baik seperti ketika  kehilangan kendali disaat marah atau frustasi dan menjadikan orang lain atau sekitarnya sebagai pelampiasan atau bahkan melukai dirinya sendiri  adalah salah satu dari bentuk los control atau terlepasnya kendalai atas dirinya sendiri. . Ketika kondisi  tersebut tersalurkan akan menimbulkan dampak terhadap diri sendiri bahkan orang lain  yang menjadi sasaran dan menimbulkan permasalahan baru dalam bentuk dendam, ironisnya ketika orang yang memiliki dendam tersebut sama halnya tidak memiliki pengendalian diri sehingga melakukan suatu keputusan atau tindakan yang menghasilkan dendam lainya maka akan terbentuk lingkaran hitam yang akan saling meruksak, menjatuhkan, bahkan memusnahkan.

Pengendalian diri dapat mulai di latih dari internal diri atau di mulai dari dalam diri sendiri. Saat melatih anak untuk dapat belajar menahan lapar dan nafsunya dengan berpuasa maka sangat penting untuk membuat kekuatan dalam diri seorang anak agar dapat berpuasa bukan hanya dengan meminta anak untuk sanggup berpuasa.

Ada berbagai cara seperti mengalihkan pikirannya, membangun daya tahan tubuh lebih kuat, bahkan dapat dengan bemberikan apresiasi untuk pencapaiannya sehingga menjadi motivasi untuk dapat melakukannya lagi dan lebih baik lagi. Baik orang dewasa atau anak-anak sama saja dalam proses perbaikan dirinya namun untuk orang dewasa yang sudah dapat berpikir dan mengetahui pentingnya pengendalian diri maka dapat melatih pengendalian diri tersebut dengan beberapa cara seperti memulainya dari merubah dirnya sendiri seperti mengatur irama, memperluas sudut pandang, berpikir sebelum bertindak, mengendalikan kesadaran diri, menganggap setiap hari adalah hari terakhir, mempercayai adanya hukum karma dan menahan diri untuk hal yang di sukai.

Pengendalian diri yang di mulai dari dalam diri adalah pengendalian otak untuk mampu mengendalikan diri baik pikiran tindakan maupun ucapannya. Dengan mampu pengendalian diri yang di mulai dari diri sendiri maka kita akan dapat dengan mudah menerima masukan atau mempermudah proses penyaringan dari faktor eksternal atau dari luar diri. Susahnya motivasi atau dorongan dari luar untuk dapat membantu kita berubah menjadi lebih baik adalah penolakan dari dalam diri kita untuk dapat menerima hal tersebut.

Untuk dapat menerima masukan dari luar agar dapat mengendalikan diri kita sepenuhnya maka kita perlu merubah kebiasaan atau pola hidup kita terlebih dahulu. Ada banyak cara yang dapat melatih pengendalian diri dari dalam diri kita sehingga kita bisa menerima masukan dari luar untuk memperkuat kita dalam penggendalian diri. Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya buku ini akan menjelaskan secara singkat mengenai apa saja yang mungkin kita dapat mulai lakukan untuk dapat melakukan pengendalian diri yang di mulai dari dalam diri kita.

a.         Mengatur Irama Pernapasan

Dalam pembahasan sebelumnya untuk menjaga kesehatan pikiran dan mengontrol emosi dapat melakukan pengolahan pernapasan, dengan mengatur pernapasan emosi akan lebih terkendali dan kesehatan pikiran akan tekontrol sehingga pengendalian diri dari dalam dapat tercapai.

Dalam beberapa penelitian proses neurokimia dapat  memutar kembali posisi kimia yang ada di otak menjadi normal hanya dengan mengatur irama pernapasan. Pengaturan irama pernapasan ini dapat di lakuakan dengan cara yang sederhana dan mudah dilakukan dalam aktivitas keseharian, dengan melakuakan penarikan napas yang dalam dan keluarkan secara perlahan.

Peroses mengatur irama pernapasan ini, mudah namun kerap terasa sulit saat kita tidak membiasakan diri, seperti yang di katakan penulis sebelumnya bahwa kebiasaan kita kerap kali menggendalikan diri kita menjadi sebuah candu yang membentuk sebuah kepribadian untuk itulah biasakan diri kita dengan hal yang baik agar kita mampu menjadi pribadi yang membaik.

Dalam sebuah peroses pelatihan pengaturan irama pernapas ini akan jauh lebih baik di lakukan dengan linkungan yang mendukung seperti didekat air terjun, dibukit, di pegunungan dan lain sebagainya yang dapat memberikan kesegaran dan ketenangan  sehingga dalam peroses mengatur pernapasan akan mendapatkan ketenangan jiwa dan pikiran.

Pengaturan irama pernapasan ini dapat menjadi latihan dalam pengendalian diri secara emosi. Dengan emosi yang terkendali maka berpikir akan lebih jernih dan menghasilkan suatu tindakan yang lebih baik.

Kerap kali seseorang kehilangan pengendalian dirinya karena pikiran kita yang kurang jernih di hadapkan pada situasi dan kondisi yang mendesak kita kehilangan kesadaran diri hingga mampu melakukan yang mungkin diluar keinginan kita, seperti saat kita yang melihat kekasih kita dengan lawan jenisnya dalam situasi dan kondisi seakan mereka terlalu dekat dapat memicu emosi yang menghilangkan kesadaran diri dan tidak mampu untuk mendengar atau berfikir apakah yang sebenarnya terjadi sehingga memutuskan untuk perpisahan atau bahkan ironisnya tanpa di sadari mampu melakukan tindakan yang di luar akal sehat kita dan berahir kepada sebuah penyesalan diri apa yang di lakukan.

Pernapasan yang baik akan menjadi kunci untuk  mengontol pikiran seseorang agar tidak terbawa suasana tanpa memberikan pertimbangan atas sebuah tindakan yang akan di lakukan. Beberapa penelitian mengemukakan pernapasan bukan hanya mengontrol emosi seperti The American Institut Of Stress (AIS) yang mengemukakan pengambilan napas yang dalam dari dalam perut selama 20-30 menit dapat mengurangi kecemaasan dan setres. Karena dengan mengatur pernapasan yang dalam dapat meningkatkan suplai oksigen keotak dan menstimulus sistem saraf yang dapat meningkatkan ketenangan terhadapt tubuh mengurangi ketengangan dari aliran darah.

Menjanga tekanan pada tubuh yang membuat pikiran tetap dapat tenang adalah sebuah situasi seseorang dalam pengontrolan diri untuk dapat mengurangi resiko terutama terhadap peningkatan kerugian. Pada penjelasan sebelumnya diterangkan bahwa ada beberapa faktor internal yang dapat membuat budaya dan tradisi miskin dapat terlahir diantaranya adalah ketika seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya sehingga dapat menimbulkan kerugian kepada diri sendiri bahkan orang lain, disisi lain tanpa adanya pengendalian diri yang baik maka akan mudah untuk terpengaruh, terprofokasi atau terkendali oleh oknum-oknum yang dengan sengaja menjaga dan membudidayakan kemiskinan.

Maka mengatur sebuah pernapasan untuk dapat mengendalikan diri adalah salah satu tahap sederhana namun perlu dapat di lakukan dalam penolakan budaya kemiskinan ataupun  tradisi kemiskinan  yang dapat dibudidayakan.  Mengatur irama pernapasan menjadi sangat penting untuk kita dapat menjernihkan pikiran kita sehingga kita mampu merubah sudut pandang atau berfikir sebelum bertindak yang akan berpengaruh pada kehidupan kita kedepannya.

b.         Manajemen Waktu

Waktu adalah sumberdaya paling adil di dunia: setiap orang mendapat 24 jam perhari. Perbedaanya terdapat dalam bagian kita menggunakannya. Orang yang sukses memanfaatkan waktunya dengan bijak, sedangkan orang gagal sering membuang waktunya dengan kesenangan sesat.

Manajemen waktu bukan sebatas produktivitas, melainkan cara mengatur hidup agar seimbang: bekerja, keluarga, istirahat, dan pengembangan diri.

Masalah umum dalam mengatur waktu seperti menunda-nunda (Prokrastinasi) yang menjadi kebiasaan paling berbahaya, ada juga terlalu sibuk tetapi tidak produktif, tidak punya prioritas, distraksi digital, dan kurang disiplin. Untuk mengatur semua itu perlu sebuah prioritas (tidak semua hal harus di kerjakan sekarang), efisien (cari cara cepat tepat), keseimbangan (jangan memfokuskan waktu hanya untuk satu hal, seperti bekerja tampa istirahat) dan konsentrasi (sedikit demi sedikit tetapi rutin).

Dalam menentukan prioritas waktu  terkadang kita perlu tanyakan kepada diri kita, apa tujuan kita? Apa yang penting? Apakah berguna?  Dan lain sebagainya. Karena hanya diri kita yang benar-benar mengetahui waktu kita akan di gunakan untuk meprioritaskan apa.

Dengan mengatur waktu kita dapat mengatur diri kita, karena waktu yang tidak dapat di ulang mengharuskan seseorang untuk memanfaatkannya sebaik mungkin dan berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.

c.         Mengubah Sudut Pandang

Pengendalian diri secara internal yang kedua adalah dengan mengubah sudut pandang tentang sesuatu masalah. Manusia yang memiliki kemampuan berpikir membuat mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Namun perbedaan sudut pandang jangan menjadikan kita orang yang asing bahkan berbeda alam.

Perbedaan adalah pemersatuan kita di Negara tercinta ini, Negara Indonesia yang memiliki ragam suku dan budaya. Perbedaan sudut pandang kerap kali menjadi perselisihan bahkan permusuhan dan terkadang apa yang di maksud adalah hal yang sama. Ajaran agama atau kepercayaan akan ketuhanan semuanya pasti mengajarkan cinta dan kebaikan maka jangan jadikan diri kita lupa apa yang menjadi ajaran dan kepercayaan kita.

Untuk dapat lebih memahami terkait sudut pandang atau poin of view, penulis melihat dari beberapa ahli yang berpendapat mengenai pengertian dari sudut pandang, di antaranya;

1.             Aminudin (1995) yang mengemukakan bahwa pengertian dari sudut pandang adalah cara seorang pengarang untuk dapat menampilkan para tokoh atau pelaku didalam dongeng yang di sampaikan atau di perankan.

2.             Antar Semi (1988) mengemukakan pengertian dari sudut pandang adalah sebagai titik kisah yang merupakan penempatan dan posisi perang dalam cerita. Antar Semi juga mengemukakan bahwa titik kisah dalam sudut pandang atau point of view terbagi menjadi empat jenis yaitu:  pertama, pengarang sebagai tokoh utama, kedua,pengarang sebagai tokoh sampingan, ketiga, pengarang sebagai orang ketiga, dan yang ke-empat atau terakhir adalah Pengarang Sebagai Pemain.

3.             Schmit dan Viala (1982), yang mengemukanan bahwa pengertian dari sudut pandang adalah  sebagai pandangan yang digunakan pengarang untuk dapat menceritakan sebagai sebuah tindakan didalam sebuah cerita.

Masih banyak pengertian yang sejalan lainnya, sudut pandang dapat diartikan sebagai posisi seseorang melihat untuk dapat menjelaskan sesuatu hal dari posisi tersebut. Dari posisi tersebutlah yang akan membentuk seseorang untuk dapat menjelaskan perspektifnya dari posisi pandangannya.

Maka kegunaan dari sebuah sudut pandang itulah yang melahirkan sebuah perspektif dari orang tersebut, seperti saat menggunakan sudut pandang dari mata semakin jauh suatu benda semakin kecil ukurannya, maka ketika seseorang memandang sebuah benda dari kejauhan perspektif pandangan terhadap benda tersebut adalah kecil, namun ketika seseorang memandang dari jarak yang dekat maka perspektif yang akan di gunakan berbeda. Ketika seseorang melihat sebuah kotak dengan empat warna akan ada perbedaan perspektif dari sudut mana dia melihat namun ketika dia bisa melihat keseluruhannya maka perspektif yang terjadi adalah semua sudut pandang dari setiap sisinya memiliki kebenaran hanya saja iya belum melihat dari  sudut lainya.

Begitupun dalam budaya kemiskinan, ketika seseorang memandang posisi dirinya sebagai korban maka perspektif yang digunakan adalah sebagai seorang korban maka dirinya akan beranggapan bahwa situasi yang dialaminya saat ini adalah sebuah akibat, sedangkan ketika seseorang yang melihat kemiskinan yang terjadi kepada dirinya sebagai perjuangan maka perspektif yang digunakan adalah situasi yang terjadi adalah sebuah sebab. Ketika pemikiran dari sebuah situasi yang dihadapi sebagai sebuah akibat akan melahirkan pesimis dan cendrung berharap adanya pertolongan, sebaliknya ketika pemikiran dari situasi yang terjadi adalah sebuah sebab maka yang dilahirkan adalah sebuah kritisisasi, perlawanan, perjuangan dan cendrung berfikir untuk dapat mengubahnya.   

Maka ketika sudut pandang adalah sebuah cara bagaimana seseorang melihat dan menilai  sesuau dari sebuah aspek, sudut pandang terbaik adalah ketika mampu melihat dan menilai dari berbagai aspek. Namun terkadang masih banyak orang yang hanya melihat dari satu aspek tertentu tanpa mempertimbangkan berbagai aspek  lainya. Ada banyak yang dapat mempengaruhi kita berpikir hanya dari satu sudut pandang diantaranya adalah kurangnya ilmu dan wawasan.

Memperkaya diri dengan ilmu dan wawasan dapat menjadi salah satu cara  untuk memperluas sudut pandang agar berpikir lebih bijak dalam melihat atau menilai sesuat hal.

Dengan sudutpandang yang luas diantaranya kita dapat melihat atau menilai sesuatu bukan hanya dari sisi negatifnya melainkan juga positifnya. Keputusan  yang di ambil dari suatu masalah yang terjadi bukan hanya memiliki dampak negatif namunjuga akan memiliki dampak positif seperti akan menjadi pelajaran dalam pengambilan keputusan yang lebih baik lagi di kemudian hari. Maka penggunaan sudut pandang akan sangat efektif ketika seseorang mampu memperluasnya sehingga banyak aspek yang akan menjadi pertimbangannya dan akan dapat dilakukan ketika seseorang mampu meningkatkan kualitas dalam pemikirannya seperti keilmuan atau wawasanya.

Pengendalian diri dengan mampu melihat dari berbagai sudut pandang akan membawa kepercayaan dari orang lain dan rasa hormat menghormati satu dengan lainnya. Maka setelah kita menjernihkan pikiran kita mulailah dengan melihat dari banyak sudut pandang sebelum bertindak.

d.        Berpikir Sebelum Bertindak

Pengendalian diri yang ketiga adalah dengan mengubah pola berfikir agar dapat berfikir sesuatu hal sebelum melakukan hal tersebut. Terburu – buru dalam menentukan atau melakukan sesuatu dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, walau apapun yang kita lakukan dapat menjadi pelajaran untuk melangkah lebih baik kedepannya namun apa gunanya sebuah pelajaran wawasan atau ilmu jika dalam melakukan atau menentukan sesuatu tanpa di fikirkan terlebih dahulu.

Belajar dari pengalaman adalah belajar dari suatu hasil yang sudah di maksimalkan untuk mencapai hasil yang lebih maksimal lagi. Bertindak ceroboh atau bertindak tanpa dipikir untuk mampu belajar dari pengalaman bukanlah hal yang di benarkan seperti saat kita masuk lubang buaya tanpa pengaman dan pengalaman apapun akan dapat membunuh kita dengan sia-sia berbeda saat kita sudah mengetahui bahwa masuk lubang buaya sangatlah berbahaya maka menggunakan pengaman atau butuh pengalaman untuk mengurangi resiko maka hasil dari tindakan itulah yang kita evaluasi sebagai dasar tindakan kita berikutnya, sederhananya nyawa manusia hanya satu maka salah bertindak tidak bisa nego bahkan minta tambah.

Situasi dan kondisi yang mendesak terkadang menjadi alasan seseorang menentukan apa yang akan di lakukan dengan terburu – buru tanpa banyak pertimbangan. Maka sebagai seorang pemimpin yang akan menggendalikan orang lain sangan perlu mengendalikan dirinya untuk dapat berpikir sebelum bertindak bahkan dari sebuah resiko terkecil dalam situasi dan kondisi apapun agar dapat mengurangi resiko kerugian yang berdampak kepada diri sendiri bahkan oranglain.

Untuk dapat melatih otak agar dapat berpikir sebelum bertindak adalah dengan mengontrol irama napas dan memperkaya atau memperluas sudut pandang, dengan pengendalian dan luasnya pandangan seseorang maka kehati-hatian dan ketenangan dalam segala situasi dan kondisi dapat dilakukan.

Kita bisa belajar dari waktu, pengalaman dapat menjadi sebuah dasar untuk menentukan tindakan berikutnya namun mendapatkan pengalaman tanpa adanya perhitungan adalah sebuah tindakan yang akan memberikan banyak kerugian terutama terhadap waktu tersebut.

Kurangnya pengetahuan atau wawasan yang dimiliki seseorang yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap sebuah tindakan yang dihasilkan tanpa adanya pertimbangan, maka penolakan terhadap kemiskinan tanpa adanya usaha dalam peningkatan keilmuan atau wawasan dari seseorang tersebut akan tetap memberikan perangkap yang tidak akan membuat seseorang tersebut dapat keluar dari situasi yang dihadapi.

Situasi yang memaksa anak-anak dari calon penerus generasinya mengorbankan masadepannya dengan berputus asa dan menerima sebuah kondisi ketidak berdayaan atas sebuah perspektif sebagai korban maka tidak diherankan bahwa angka kemiskinan akan dapat mempengaruhi angka kriminalitas, karena kurangnya asupan kapasitas diri untuk dapat memberantas atau keluar darikebodohan yang mengurung pada sebuah situasi kemiskinan dan memaksa kepada tindakan yang akan terus merugikan.

Mengendalikan diri untuk dapat memperluas sudut pandang yang akan menjadi pertimbangan dalam sebuah pengambilan keputusan sangat perlu dimulai dengan membangun kesadaran atas dirinya disetiap situasi dan konsisi. Banyak hal yang dapat terjadi diluar kesadaran diri seseorang ketika dihadapkan kepada situasi dan kodisi tertentu. Maka untuk melengkapi kemampuan yang perlu diperbaiki dari internal atau dalam diri adalah menjaga kesadaran diri.

e.         Mengendalikan Kesadaran

Tahap berikutnya hampir sama seperti tahap sebelumnya dalam pengendalian diri dari internal maka kita juga perlu mengendalikan kesadaran diri kita dalam beragam situasi dan kondisi yang di hadapi. Amarah terkadang membuat seseorang kehilangan kesadaran diri dan terlepasnya pengendalian diri hingga membuat suatu tindakan atau keputusan yang tidak di sadari bahkan kerap sekali kerugian baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Emosi bukanlah hal yang salah apalagi jika dalam situasi berduka, bahagia, kehilangan, atau bahkan mencintai. Karena emosi adalah reaksi yang dikeluarkan akibat dari sesuatu hal yang mempengaruhi suasana hati atau melibatkan perasaan. Atau dapat diartikan secara sederhana bahwa emosi adalah sebuah reaksi alamiah yang timbul pada seseorang sebagai sebuah dampak terjadinya perubahan tertentu yang ada disekitarnya. Untuk dapat lebih memahami istilah dari emosi maka dapat dilihat dari beberapa ahli yang berpendapat seperti;

Daniel Golmen yang memberikan penjelasan bahwa pengertian dari em,osi adalah pergolakan perasaan pikiran nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Yaitu sebuah perasaan dan pemikiran yang khas dimana keadaan biologis dan pesikologis seseorang mengalami perubahan tertentu.

George Miller, juga memberikan pendapat bahwa pengertian dari emosi adalah pengalaman seseorang mengenai sebuah perasaan yang kuat, bersamaan dengan perubahan fisik seperti peredaran darah, denyut jantung dan perasaan, hingga kecendrungan melakukan tindakan tertentu sebagai reaksi.

Muhammad Najaati menjelaskan bahwa emosi adalah dampak dari faktor pesikologis seseorang dimana terjadinya sebuah kekacauan yang meliputi segala aspek individu yang mempengaruhi perasaan, prilaku hingga vital seseorang.

Angels, juga menjelaskan pengertian dari emosi adalah sebuah kondisi perasaan yang kompleks pada seseorang dipengaruhi oleh aktivitas kelenjar, seperti aktivitas lambung atau organ-organ intinsik.

Maka emosi adalah sebuah reaksi yang diakibatkan oleh sesuatu hal yang dapat melibatkan perasaan. Ciri-ciri emosi pada manusia seperti adanya perubahan fisik, tidak objektif, fluktuatif adanya troma hingga perubahan tingkah laku. emosi juga memiliki beberapa jenis diantaranya rasa cinta, rasa takut, rasa malu, rasa cemburu, rasa dengki, rasa benci dan lain sebaginya. Maka emosi bukan sebatas pada ungkapan kemarahan atau hal yang negatif melainkan dapat berupa cinta atau hal-hal positif.  Namun hal positif atau ungkapan rasa cinta dari sebuah reaksi emosi yang berlebihan dan tidak terkendali dapat membuat seseorang yang ingin mengungkapkan perasaan cintanya justru menjadi obsesi bahkan dapat berubah dengan seketika menjadi emosi. Maka sangat penting untuk dapat mengendalikan kesadaran diri ketika emosi sebagai kontrol pengendali diri dalam mengungkapkan sebuah reaksi dari emosi yang sedang dialami.

Ada banayak hal yang dapat mempengaruhi seseorang kehilangan kendali atau kesadaran diri ketika emosi seperti:Pertama, kurangnya pengetahuan dan wawasan yang berakibat pada kurangnya pertimbangan seseorang ketika dihadapkan pada reaksi emosi yang sedang dialami. Kedua kurangnya dampingan dari orang lain untuk dapat membantu mengontrol emosi yang sedang terjadi. Ketiga penumpukan masalah dimana sebuah situasi seseorang yang mengaitkan banyaknya permasalahan atau problem dalam  satu situasi yang mempengaruhi reaksi emosi  yang berlebihan.

Dari beberapa hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa pengaruh dan mempengaruhi seseorang secara emosi akan memiliki banyak dampak baik positif ataupun negatif untuk diri sendiri ataupun orang lain sesuai dengan penyikapan atau penerapan yang di lakukan seorang pemimpin.  Dengan kata lain emosi dapat menjadi alat yang membantu kita namun dapat pula melukai kita sehingga perlunya pengendalian diri untuk dapat terus tersadar ketika emosi dalam situasi dan kondisi.

Memahami situasi dan kondisi dari berbagai sudut pandang adar dapat berfikir sebelum bertindak dapat menjadi salah satu cara dalam menekan mengendalikan diri agar dapat tetap tersadar dan mampu mengurangi resiko yang akan terjadi untuk apa yang akan kita lakukan, namun situasi dan kondisipun kerap menjadi alasan seseorang kehilangan kesadaran diri. Situasi emosi positif ataupun negatif akan berakhir pada sebuah hasil yang negatif ketika pengendalian diri atas sebuah kesadaran dirinya tidak terkendali, seperti ketika seseorang jatuh cinta mereka dapat melakukan apapun untuk dapat memberitahukan ungkapan dari reaksi perasaan yang sedang dialami, sayangnya kesadaran diri yang tidak terkendali dapat membuat seseorang tersebut melakukan sesuatu yang merugikan dirinya dan bahkan orang lain.

Maka sangat penting untuk mampu mengendalikan diri sendiri dalam situasi dan kondisai apapun sebagai pengendali disaat situasi dan kondisi memaksa kita kehilangan kesadaran. Sama seperti seseorang yang akan sulit terkena hipnotis karena kesadaran dirinya kuat maka sebelum situasi dan kondisi menghipnotis kita untuk membuat suatu keputusan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Perangkap dari sebuah kurungan kemiskinan yang merantai diri adalah ketika seseorang tidak mampuan untuk berpikir sebelum bertindak akibat dari kurangnya perluasan sudut pandang agar dapat terjaganya kesadaran atas dirinya sebagai kendali diri dalam situasi dan kondisi yang sedang dialami. Kesadaran diri dapat dijaga dengan memikirkan sitiap resiko yang akan dilakukan, salah satu yang dapat menjadi sebuah pertimbangan adalah ketika seseorang mampu berfikir bahwa setiap hari adalah hari terakhir maka orang tersebut akan cendrung berfikir kebaikan untuk dirinya dan orang-orang disekitarnya terutama yang dia sayangi. Maka pada pembahasan berikutnya adalah memahami betapa pentingnya menanamkan paradigma atau pemikiran bahwa setiap hari adalah hari terahir bagi dirinya.

f.              Menganggap Setiap Hari Sebagi Hari Terakhir

Pengendalian diri dari internal berikutnya adalah merubah cara pandang dalam menganggap setiap hari adalah hari terakhir sehingga membuat kamu termotifasi untuk melakukan hal yang baik dan jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Perbaikan diri adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi, maka berfikir setiap hari adalah hari terakhir bukan menjadikan seseorang menikmati waktu sehingga lupa adanya waktu yang akan dilanjutkan oleh anak cucunya, secara sederhananya berfikir hari ini adalah ahari terkhir sebagai alaram untuk dapat terus memperbaiki diri disetiap harinya dan siap untuk meninggalkan kehidupan ini dengan baik bukan untuk lebih memperburuk diri dan situasi yang dapat terwariskan untuk generasi kegenerasi.

Memanfaatkan waktu sebaikmungkin dengan mulai berfikir bahwa setiap hari adalah hari terakhir seperti seseorang yang sudah di fonis oleh dokter bahwa orang tersebut tidak memiliki umur atau waktu yang panjang dan hari ini adalah hari terakhirnya, maka bagi seseorang yang takut sebuah kematian akan melakukan hal yang baik dan mempersiapkan dirinya untuk mati dengan keadaan baik atau tenang. Kesombongan seseorang bahwa dirinya akan hidup abadi adalah alasan terbesar hilangnya kesadaran diri, seperti seseorang yang mulai tidak percaya adanya tuhan, adanya hari setelah kematian, dan adanya takdir yang diakibatkan oleh dirinya sebagai warisan untuk generasi berikutnya. Contoh dalam kehidupan nyata yang kerap kali terjadi adalah ketika seseorang sombong atas waktu yang dimiliki dengan membuang waktu bermalas malasan atau bahkan menabur kebencian maka warisan kemiskinan dan kebencian dari orang lain akan tersalurkan kepada generasi penerusnya mulai dari keluarga, orang-orang yang disayangi hingga orang-orang terdekatnya. Contoh lebih sederhananya adalah ketika seseorang membunuh orang lain maka keluarga dari orang yang dibunuh akan membalaskan dendam dengan membunuh si-pembunuh atau keluarga sipembunuh dan ironisnya ketika hal tersebut terus berlangsung sama halnya dalam kemiskinan ketika seseorang menyalahkan takdir tanpa berusaha memperbaiki situasi yang dialami akibat orang tua yang tidak berusaha merubah situasi yang dialaminya adalah sebuah kesombongan seseorang dari ketidak mampuan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengurangi situasi yang dialami diri sendiri atau penerusnya untuk jauh lebih baik lagi.

Motifasi ini dapat menjadi sebuah cara untuk kita percaya adanya hukum karma saat kita percaya adanya hukum karma dengan menganggap hari ini adalah hari terakhir maka kita akan takut kematian dan takut untuk bertindak keburukan. Setiap hal yang dilakukan akan berbalik kepada diri sendiri hingga orang-orang disekitar kita.

Perinsip yang selalu di pegang oleh penulis adalah Komadan Zero yang berarti terus melangkah karena waktu akan terus berputar tidak akan pernah berhenti untuk menanti sebelum mati, setiap waktu yang dijalani tidak akan dapat tergani atau diputar kembali. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin dimana setiap detiknya sangatlah penting, takut kematian bukan membuat kita menikmati surga duniadengan melakukan hal-hal negatif atau buruk namun menjadi sebuah dasar penyadaran diri untuk dapat memperbaiki dirinya dan kehidupannya.

Takut kematian mengajarkan seseorang menghormati dan mengasihi bijak dan sabar karena merasa akan meninggalkan orang yang disayangi dengan kemarahan, kebencian bahkan ketidak perdulian dan membuang kesempatan hilangan orang yang dikasihi tanpa dapat bertemu denganya kembali.

Ketakutan terhadap kematian dapat menjadi sebuah motivasi untuk seseorang hidup selamanya atau dalam sebuah keabadian. Dengan kita memanfaatkan waktu sebaikmungkin maka kita akan hidup dengan waktu yang sangat panjang bahkan tidak termakan zaman. Seseorang yang takut kematian untuk dapat membuat dirinya hidup sangat panjang adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan membuat sejarah hidupnya di kenang  dan selalu hidup dalam diri orang-orang yang mengenangnya. 

g.        Mempercayai Adanya Hukum Karma

Sama seperti sebelumya kita harus mengubah polapikir untuk dapat menganggap setiap hari adalah hari terakhir dalam proses pengendalikan diri maka dalam proses kali ini adalah mengubah ketidak percayaan adanya hukum karma atau hukum timbal balik dengan mulai mempercayainya. Setelah kita menganggap setiap hari adalah hari terakhir maka untuk mengendalikan diri agar kita tidak menjadikan setiap hari hanya untuk bersenang – senang dan menggunakan waktu dengan tidak baik lainnya kita dapat mempercayai adanya hukum karma.

Mempercayai adanya hukum karma dapat membuat seseorang berhati – hati dalam bertindak karena iya percaya apapun yang iya lakukan akan berbalik kepada diri sendiri bahkan orang-orang disekitarnya. Terkadang seseorang tidak menyadari apa yang dia lakukan adalah merugikan dirinya sendiri dan orang lain seperti saat seseorang membuang sampah sembarangan tanpa menyadari dia menyumbang adanya dampak banjir, penyakit, merusak pemandangan dan lain sebagainya.

Hukum karma bukan berlaku hanya untuk sesama manusia saja namun kepada tuhan dan alamnya, seperti yang di sampaikan sebelumnya disaat seseorang menjaga sesama dan alam hingga kepercayaan terhadap tuhannya maka sesama dan alam hingga tuhanya yang akan menjaga orang tersebut.

Saat kita belajar setiap hari sebagai hari terahir dan bagaimana cara kita untuk dapat hidup dalam waktu yang sangat panjang adalah dengan membuat sejarah hidup kita terkenang dan memiliki arti untuk orang lain maka pada pembahasan kali ini kita memilih  kenangan atau arti seperti apa yang ingin kita berikan pada orang lain.

Saat kita membuat kenangan dan arti yang baik maka hidup panjang kita sebagai orang yang baik dan penuh cinta kasih untuk yang mengenang namun sebaliknya disaaat kita hanya memberi derita dan keburukan untuk orang lain arti yang melekat pada diri orang sebagai umur panjang kita adalah menjadi sosok yang buruk. Walau tanpa ada yang berbuat buruk kita tidak tau arti buruk itu namun janganlah jadi diri sebagai contoh keburukan itu. 

Setelah kita mempu mengendalikan irama napas untuk menjernihkan dan memberikan ketenangan pikiran kita mengubah sudut pandang lebih luas agar mampu berfikir sebelum bertindak dan mengendalikan kesadaran diri dalam situasi dan kondisi apapun untuk mengurangi resiko dalam menjalani hidup yang seakan setiap hari adalah hari terakhir maka percaya adanya hukum karma sebagai pengontrol tindakan sangatlah penting untuk di kuasai. Terlepas percaya atau tidaknya neraka dan surga seseorang perlu mempertimbangkan sesuatu yang akan di lakukan karena apapun yang terjadi pasti ada sebab dan akibat maka menilai sesuatupun dengan mempertimbangkan minimal sebab dan akibatnya. Banayak perussahaan yang hancur karena persaingan atau penyikapan terhadap karyawan dan orang lain yang buruk. Maka tidak diherankan ketika adanya kurungan lain yang mengurung seseorang dalam kemiskinan.

h.        Menahan Diri Untuk Hal Yang Di Inginkan

Setelah kita mempelajari irama napas untuk menjernihkan dan memberikan ketenangan pikiran kita agar dapat menerima atau menampung banyak pengetahuan  yang dapat mengubah sudut pandang lebih luas dan mampu berfikir sebelum bertindak dalam menjaga kesadaran diri di setiap situasi dan kondisi apapun supaya  berkurangnya tingkat resiko dalam sebuah tindakan atau pengambilan keputusan, Memotifasi; setiap hari adalah hari terakhir dan percaya adanya hukum karma sebagai pengingat tindakan maka dalam peroses pengendalian diri dari internal kali ini adalah menahan diri untuk melakukan ataupun menentukan sesuatu bukan hanya karena keinginan tetapi adanya pertimbangan kebutuhan yang harus didahulukan atau diperioritaskan.

Kerugian seseorang yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan tanpa di sadari adalah karena hanya mengikuti apa yang di inginkan bahkan kita belum membutuhkan dan parahnya kita tidak membutuhkan hal tersebut sehingga menjadi sebuah kerugian yang amat besar. Cara – cara pengendalian yang dimulai dari dalam diri seseorang sebelumnya dapat menjadi salahsatu tahapan mengendalikan diri untuk dapat menentukan antara keinginan dengan kebutuhan yang harus diprioritaskan.

Memiliki keinginan tidaklah salah namun tanpa pengendalian diri yang baik dapat menjadi bumerang pada diri sendiri bahkan pada orang lain. Maka mulailah menunda sesuatu yang kita inginkan untuk mendahulukan yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Keinginan adalah sebuah motifasi sekaligus nafsu, maka jadikan keinginan sebagi salah satu kendali untuk meraih tujuan kita namun juga menjadi perjuangan atau tantangan kita disetiap harinya untuk memilih mana yang lebih penting dan perlu untuk di dahulukan. Seseorang yang menginginkan dirinya menjadi seorang polisi maka kendalikan diri untuk layak sebagai polisi, tindakan nyogok atau menghalalkan segala cara yang tidak baik untuk menjadi seorang polisi karena hal itulah yang justru tanpa disadari dapat merusak keinginan sebagai seorang polisi. Hubungan contoh permasalahan yang dijelaskan tentang seseorang yang ingin menjadi seorang polisi dengan pembahasan keinginan dan kebutuhan adalah ketika seseorang menginginkan sesuatu namun tanpa pengendalian diri maka akan sangat sulit mencapai sebuah keinginan tersebut walaupun berhasil akan memiliki hasil yang tidak maksimal dibanding ketika seseorang tersebut menginginkan menjadi seorang polisi namun mengikuti kebutuhan sebagai seorang polisi yang memiliki siakap dan sifat yang amanah maka yang akan dikedepankan bukan menjadi seorang polisi tetapi memiliki kesiapan sebagai seorang yang pantas menjadi seorang polisi. Dalam arti kasus ini kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mengikuti apa yang dia inginkan.

Seseorang kerap diberi sebuah pilihan antara keinginan dan kebutuhan, seperti  keinginan membeli sepeda motor atau membeli kebutuhan makan, mengapa kebutuhan harus lebih didahulukan? Alasanya adalah dengan terpenuhinya kebutuhan akan memberi kesempatan untuk mendapat apa yang kita inginkan dengan jauh lebih maksimal. Seperti pada kedua contoh yang dijelaskan ketika seseorang mengutamakan keinginan menjadi seorang polisi dan membeli sepeda motor dengan cara yang tidak baik atau mengorbankan diri tidak makan maka jabatan polisi dan pembelian motor hanya akan sesat seperti akan dipecat atau dia yang harus menjual kembali motornya untuk berobat. Sebaliknya ketika seseorang mengutamakan kebutuhan sikap dan fifat sebagai seorang polisi yang pantas dan memilih makan dibanding sepeda motor dia akan memiliki waktu lain untuk memaksimalkan pencapaian keinginannya. Maka memenuhi kebutuhan terlebih dahulu adalah sebuah proses untuk mencapai sebuah keinginan.

Dengan merubah faktor dari internal atau dalam diri seseorang untuk dapat mengendalikan diri maka seseorang akan mampu lebih bijak dalam menentukan ataupun melakukan sesuatu dan mengurangi resiko kerugian kepada diri sendiri ataupun orang lain. Memulai memperbaiki diri dari dalam diri sendiri ini jadi sangatlah penting untuk di lakukan.

Saat diri kita kuat maka hal negatif yang ada di luar kita tidak akan mampu merusak dirikita dan mempermudah masuknya hal positif yang ada di luar kita. Perbaiki dirimu agar mampu memperbaiki sekitarmu karena mungkin sekitarmu yang baik dapat rusak karena ketidak baikanmu. Lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang baik sifat, sikap dan lain sebagainya namun perbuatan seseorang baik sikap sifat ataupun lain sebagainya dapat juga mempengaruhi lingkungannya.

Kesadaran penuh dalam pengendalian diri adalah salah satu syarat kepemimpinan, kerap kali kita berjumpa dengan beberapa kasus problem di antaranya pemerintah memberikan bantuan sapi untuk masyarakat dan di kelola oleh masyarakat untuk mengurangi problematika terkait kemiskinan berjangka panjang dengan harapat masyarakat dapat megelola sapi itu dengan sistem kapital yang menguntungkan jangka panjang namun justru sapi habis terjual dengan roda ekonomi yang terhenti di sisi lain ada bantuan sapi yang di turunkan pemerintah kepada kelompok untuk kesejahteraan masyarakat dengan sistem kelompok yang mengelola masyarakat yang bekerja hasilnya semua merasakan dengan harapan yang sama untuk mengurangi kemiskinan jangka panjang namun berakibat perebutan kekuasaan dan keuntungan sebagian pihak bahkan segelintir orang yang memanfaatkan tenaga rakyat dan bantuan pemerintah dari dua hal tersebut apakah yang salah? Pemerintahnya, kelompok, masyarakat atau sistemnya.

Namun saat pemerintah ataupun kelompok berdiri dari adanya rakyat atau anggota dan sistem untuk kontrol rakyat yang dimana kembali pada rakya apakah akan dilaksanakan dan dipatuhi atau tidaknya itu terpusat pada kesadarn individu, maka tidak berjalannya roda ekonomi yang sesuai dengan perencanaan adalah saat setiap individu belum memiliki tingkat kesadaran dalam pengendalian dirinya masing-masing  mulai dari satu orang yang tidak terkendali dan mengikuti napsu hingga menjadi racun untuk orang lain kehilangan pengendalian dirinya, berbeda dalam konteks idealis saat satu orang yang memiliki tingkat kesadaran penuh dengan pengendalian diri yang baik walau belum tentu mampu sebagai penawar dalam pengendalian diri orang lain setidaknya dirinya akan mampu menamengi dirinya dari resiko ketika tidak memiliki pengendalian diri dan menjadi contoh atau figur bagi orang lain yang belum memiliki pengendalian diri dengan baik.

Memperbaiki setiap faktor internal atau dari dalam diri adalah salah satu penolakan kemiskinan secaraindividu dengan banyak cara dan mudah untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari namun terkadang ketidak sadaran itu yang menjebak dan mengurung seseorang dalam sebuah belenggu kemiskinan yang menjerat hingga terwariskan dari generasi kegenerasi.

Seperti yang di nyatakan oleh (patricia Patton, 2002:35-36) Anda dapat memberdayakan orang lain dengan memberikan informasi yang dapat membantu dan menggairahkan tetapi hanya mereka yang dapat mengubah diri mereka sendiri. Seperti yang di gambarkan oleh patricia dalam sebebuah hubungan keluarga seorang istri atau suami akan mampu memaksa seorang pasangannya untuk tetap menjaga sebuah hubungan yang menjadi sebuah komitmen bersama walau kata bersama didalamnya ada dua orang yang saling mendukung namun keputusan komitmen tetap ditentukan oleh setiap individunya masing-masing.

Sangat penting sebuah kesadaran dalam pengendalian diri untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan memutus rantai kemiskinan yang melekat menjadi sebuah budaya hingga tradisi kemiskinan yang dapat dibudidayakan. Perbaikan dari dalam diri atau internal individu adalah sebuah proses untuk memperkuat diri dalam menolak pengaruh buruk dan memberi pengaruh positif yang datang dari eksternal atau dari luar diri seseorang. Indonesia adalah sebuah negara yang punya potensi besar sebagai negara termaju dan terbaik, peluang dari jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) akan sangat sia-sia ketika setiap individunya tidak memiliki kesadara diri dan pengendalian diri untuk memperbaiki dirinya dan kehidupannya. Sebanyak apapun SDM dan SDA yang ada di suatu Negara ketika tidak dikelola dengan baik hanya akan tergerus oleh waktu, maka meningkatkan kualitas dari sebuah individu adalah seperti ketika sebuah pabrik produksi yang di operasikan oleh banyak orang maka setiap kesalahan dari satu orang bukan hanya berdampak kepada orang tersebut namun juga kepada seluruh yang terkait dengan pabrik tersebut begitupun sebaliknya ketika adanay individu yang berkualitas pada suatu babrik maka akan dapat meningkatkan keseluruhan yang terkait dengan pabrik tersebut juga. Perbaikan diri dari internal adalah sebuah tindakan yang dilakukan seseorang dari dirinya sendiri dan dapat meningkatkan kualitas seseorang itu sendiri yang mempengaruhi dirinya dan sekitarnya.

Selain  dari dalam diri atau internal, dari luar diri atau eksternal juga dapat mempengaruhi pengendalian diri dan tumbuh atau berkurangnya tingkat kemiskinan. Maka pada pembahasan berikutnya adalah eksternal diri atau faktor dari luar diri sendiri yang dapat mempengaruhi pengendalian diri sebagai salah satu kunci perubahan situasi atau pemutus rantai kemiskinan.

2.      Perbaikan Dalam Pengendalian Diri Dari Eksternal

Setelah kita mampu mengendalikan diri secara internal atau melakukan peroses peerubahan yang di mulai dari dalam diri kita sendiri maka dalam tahap kali ini akan lebih membedah mengenai perubahan apa saja yang harus di lakukan untuk dapat  mengendalikan diri yang baik, yang dipengaruhi oleh faktor eksternal atau luar diri seseorang.

Saat kita membagi antara internal dan eksternal penulis menilai untuk tingkat orang dewasa bahwa pengaruh dalam diri atau internal terhadap pengendalian diri adalah sebesar 70% dan sebaliknya pengaruh dari luar diri atau eksternal dalam pengendalian diri adalah 30% berbeda dengan anak usia dini  pengaruh dari internal diri hanya 30% dan dari eskternal atau dari luar justru yang mencapai 70% dalam pengendaliandiri.

Hal itu dikarnakan tingkat kesadarna  dan kemampuan berfikir orang dewasa lebih tinggi dari anak usia dini sehingga peroses anak untuk mengenal hal yang baik dan buruk dari luar dirinya sedangkan orang dewasa yang sudah di perkenalkan antara hal yang baik dan hal yang buruk harus mulai menggunakan kemampuan dirinya dan kesadaran dari dirinya untuk dapat mengendalikan dirinya. Sederhananya seorang anak lebih mudah untuk di bimbing dan di ajarkan sesuatu karena mereka masih dalam peroses perkenalan sehingga akan lebih mudah menerima masukan dari luar sebaliknya orang dewasa yang sudah mengenal berbagai hal dengan kemampuan berpikirnya maka mereka akan lebih sulit menerima masukan dari luar sebelum keyakinan ataupun kemauan dari dirinya sendiri untuk menerimanya.

Dalam sebuah kasus seorang anak akan menerima ajaran 1+1=2  karena anak usia dini masih menerima sesuatu ibarat Hardisk dia masih kosong sehingga membutuhkan isian untuk dapat memperosesnya menjadi berkembang namun untuk orang dewasa dia akan menerima setelah keyakinan dirinya terjawab seperti kenapa 1+1=2 bukan 11 karena orang dewasa sudah beranjak pada proses pengelolaan ibarat hal yang sama sebagai Hardisk yang sudah memiliki berbagai inputan data maka dia akan mengembangan dan mengolah data terlebih dahulu  bukan penerimaan data yang sama. Sama seperti proses belajar seorang anak dia akan menerima bahkan dengan senang karena semua adalah hal baru baginya namun untuk orang yang dewasa merasakan kesenangan ketika menerima hal yang baru bukan hal yang sudah dia ketahui, maka ketika seseorang yang sudah dewasa akan lebih sulit diingatkan disaat pikiran dari dirinya menolak hal tersebut.

Jadi dalam peroses belajar orang dewasa tidak dapat hanya menggunakan peroses pendidikan gaya bank seperti yang di depan adalah maha dewa atau maha benar melainkan pendidikan yang mengajarkan sebuah patner belajar dengan sistem pembelajaran guru dan murid sama-sama belajar dan kebebasan berpendapat akan memicu munculnya ilmu pengetahuan baru dari sebuah proses dialektika seperti seorang anak usia dini yang senang dapat belar hal yang baru.

Maka ekternal ini hanya dapat menjadi pendorong dan motifasi dalam peroses pengendalian diri seseorang karena apapun yang dikatakan atau di lakukan seseorang dapat tidak berpengaruh pada orang yang memiliki ego atau pendirian yang kuat. Atas dasar itulah tingkatan orang dewasa untuk dapat memulai belajar mengendalikan diri bukan memulai dari luar tetetapi dari dalam dirinya terlebih dahulu sehingga adanya kekuatan penerimaan penyadaran diri menjadi orang baik dan lebih baik. Sebaliknya  untuk mengajarkan peroses pengendalian diri yang baik  pada anak usia dini adalah dari eksternalnya terlebih dahulu dimana keluarga lingkungan budaya dan hukum memiliki peran besar dalam peroses pendewasaan seorang anak yang masih baru mau untuk mengenal sesuatunya dan untuk meningkatkan kekuatan pada orang dewasa dalam proses pendewasaanya. 

a.              Keluarga

Keluarga adalah kunci sebelum seorang anak mengenal dunia, sebelum pintu terbuka maka peran penting untuk seseorang dapat memiliki kekuatan dalam pengendalian diri. Untuk seorang anak yang baru mau mengenal dunia maka guru yang pertama adalah keluarga.

Keluarga mampu menghipnotis untuk seseorang yang mau dan baru mengenal dunia untuk memiliki sebuah karakter tertentu nantinya. Dalam sebuah keluarga bukanlah berisi ego iri dengki dan hal negatif  lain sebagainya melainkan penuh cinta hingga saling mengerti perduli dan hal positif lainya dalam arti cinta. Namun banyak bangian keluarga yang lalai mengenal arti cinta dan keluarga sehingga saling mematahkan, menghancurkan, bahkan memusnahkan satu dengan yang lainnya baik secara sengaja ataupun tidak.

tetetapiTidak sedikit peneliti menjadikan keluarga sebagai pendidikan nomersatu karena apapun yang di lakukan di dalam keluarga akan berdampak pada pesikologis seorang anak, bukan hanya kepada anak yang masih baru mengenal dunia untuk orang yang dewasa sekalipun dapat merasakan dampaknya.

Perlunya membangun keluarga yang baik dengan hubungan ayah, ibu, anak, kakak, adik, ataupun bagian keluarga lainya haruslah menjadi bagian pendorong dan penguat satu dengan yang lainya agar mampu membentuk seseorang  yang baik dan semakin baik setiap harinya.

Pengaruh keluarga untuk anak yang dewasa cukuplah besar  apalagi untuk anak yang baru  mengenal dunia. Maka jangan membangun keluarga dengan tergesa-gesa hingga menyakiti satu dengan lainya karena itu akan berdampak bukan hanya kepada diri sendiri tetetetapi keluarga sendiri, keluarga orang tua, keluarga mertua bahkan lingkungan.

Keluarga buakan hanya antara dua orang yang saling mencinta dan terikat dalam pernikahan atetetapi ada anak nene bahkan orang lain yang menganggap sebagi bagian dari keluarga itu sendiri sehingga dampak dari satu sama lain akan saling berpengaruh. Ada sebuah ibarat kata “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” maka anak seorang pencuri akan menjadi pencuri, maka seharusnya keluarga pencuri sebaiknya di jauhi agar tidak meracuni sekitarnya tetetetapi menghindari seseorang yang berbuat buruk terutama keluarga sendiri yang dapat memicu seseorang tersebut melakukan perbuatan yang buruk dan semakin lebih buruk lagi. Hal tersebut menggambarkan penyikapan keluarga atau lingkungan yang takut terbawa dalam perbuatan buruk seseorang dapat meracuni sekitarnya ataupun anggota keluarga lainnya, ketika salah satu orang dari keluarga melakukan perbuatan buruk namun tidak adanya bantuan atau dampingan dari keluarga lainnya untuk dapat memerbaiki dirinya yang masih memiliki potensi berubah menjadi lebih baik dan penyikapan  keluarga yang menjadi pendamping sebelum orang lain yang dapat membantunya justru menghindar sehingga memicu seseorang tersebut melakukan hal negatif  kembali atau kehilangan harapat untuk adanya dukungan menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Membangun peribadi yang baik bukan hanya untuk dirinya namun  untuk keluarga dan sekitarnya, sehingga orang yang memiliki pribadi yang baik akan berfikir untuk memperbaiki bukan menghindari. Seperti dalam pembahasan sebelumnya dalam sebuah organisasi akan tetap didalamnya memiliki individual masing-masing yang akan saling mempengaruhi hasil produksi hingga citra organisasi itu sendiri maka begitupun dalam keluarga ketika individu dalam sebuah keluarga tidak dapat saling memperbaiki maka akan memberikan cirta dan keluarga yang buruk pada ahirnya.

 Pengaruh keluarga yang kerap kari dapat dijumpai hingga saat ini adalah Broken Home, akibat dari keluarga yang tidak harmonis akan menimbulkan pertengkaran, perceraian, kekerasan hingga mengganggu pesikologis anak atau anggota keluarga lainnya. Keluarga yang mengalami situasi tersebut dapat dikatakan keluarga disfungsional yang dapat memberikan akibat emosional terhadap anggota keluarga yang ada didalamnya. Perbuatan buruk seperti kriminalitas akibat broken home sama dengan pandangan Wells yang memberikan pendapat mengenai pengertian Broken Home itu sendiri yaitu, wells menjelaskan bahwa broken home adalah keluarga yang mengalami perpecahan karena kematian, perceraian, seseorang yang tidak menikah dan mengakibatkan tindakan kriminalitas. Begitupun menurut Quensel, broken homeadalah sebuah penggambaran keluarga yang tidak harmonis dari sebuah pertengkatan dalam keluarga hingga terjadinya sebuah perpisahan. Maka dapat diartikan bahwa broken home adalah keondisi keluarga yang sudah tidak utuh lagi yang berdampak emosional kepada anggota keluarga lainnya terutama kepada seorang anak.

Keluarga adalah rumah dan tempat pertama untuk mencari kenyamanan, dukungan, dan kekuatan lainya agar seseorang terutama anak untuk dapat memperbaiki diri dan situasinya, maka keluarga yang tidak harmonis dapat memberikan pengaruh besar untuk sumbangsih rantai kemiskinan. Akibat konflik dalam keluarga banyak angka kriminalitas baik yang dilakukan orang tua ataupun anak yang merusak masadepan, keluarga juga sangat berpengaruh terhadap keyakinan dan kekuatan seseorang yang ingin berjuang merubah nasibnya atau keluar dari kemiskinan seperti seorang anak perlu dukungan pendidikan, kasihsayang, dan dorongan lainnya untuk membentuk karakter dan kualitas anak yang jauh lebih baik agar dapat merubah nasib atau situasi yang sedang dialami lebih baik lagi.

Maka keluarga bukan hanya tentang cinta kedua orang, namun cinta kasih dan komitmen untuk saling mendukung seluruh yang ada didalamnya menjadi lebih baik, kepribadian individu dapat mempengaruhi keluarga namun keluarga juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang atau individu didalamnya, maka untuk menjaga keluarga sangat memerlukan kukmpulan individu yang memiliki kepribadian yang baik dan kepribadian yang baik dipengaruhi oleh pengendalian diri. Artinya setiap individu dalam keluarga memerluakan pengendalian diri yang baik untuk membangun pribadi dan keluarga yang baik agar dapat menjaga kebaikan antar individu didalamnya.

Memiliki pribadi yang kuat sangat penting untuk mampu merubah keluarga menjadi lebih baik karena dalam satu keluarga haruslah ada yang kuat dan mau untuk membagun keluarganya menjadi lebih baik. Dengan keluarga yang baik akan membawa seseorang jauh lebih kuat untuk dapat terus memperbaiki diri, sepeti seseorang yang bertemu dengan orang yang tepat di tempat yang tepat. Orang yang baik dengan didukung keluarga yang baik akan menjadi figur untuk lingkungannya lebih baik.  Namun lingkungan juga dapat mempengaruhi pengendalian diri seseorang  hingga senuah keluarga menjadi lebih baik atau lebih buruk lagi.

b.             Lingkungan Sosial

Manusia adalah mahluk social, kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Kita berinteraksi dengan teman keluargga rekan bahkan musuh atau otang yang kita tidak sukai.

Lingkungan social yang sehat dapat menjadi sumber energy positif, sementara lingkungan yang buruk akan menjadi sumber negative atau racun yang menghambat pertumbuhan diri.

Lingkungan yang baik akan memberi pengaruh yang baik, dan mampu memberi energy positif dalam kehidupan sehari-hari. Seperti seseorang yang dekat dengan penjual parfum dia akan tercium bau parfumnya. Lingkungan dapat memberikan dorongan yang besar dalam melakukan sesuatu, untuk itulah memperkuat diri terlebih dahulu sangat perlu agar tidak terbawa oleh lingkungan tetapi dapat mengolah dengan mengambil hal yang positif menghindari yang negatife.

Pergaulan di jaman sekarang sangatlah ekstrim, salah bergaul akan membuat seseorang terperosok dalam kerugian yang besar. Banyak anak-anak kecil sekarang yang ikut tawuran, mulai minum minuman keras bahkan mengkonsumsi narkoba, selain Karena kurangnya pengendalian diri  control orang tua dan pengaruh lingkunganlah yang membawa fenomena zaman terjadi.

Untuk dapat menggendalikan diri kita membutuhkan lingkungan yang dapat mendukung kita dan membantu kita mencapai tujuan, maka berada di lingkungan yang sehat sangatlah penting.

Lingkungan sehat bukan sebatas bebas polusi atau tersedianya air bersih tetapi di isi orang orang yang saling perduli, gotong royong, dan saling support agar dapat mencapai sebuah kesuksesan.

     Lingkungan yang sehat dapat menjadi pengendali diri keti-ka berada di luar rumah, dan cara memilih lingkungan adalah yang pertam, memperhatikan nilai dan norma yang berlaku di dalamnya. Lingkungan yang sehat biasanya menjunjung tinggi sikap saling perduli, menghormati, serta kejujuran. Jika kita berada di lingkungan yang penuh dengan konflik, fitnah, atau kebiasaan merugikan orang lain dan diri sendiri, maka cepat atau lambat hal tersebut akan mempengaruhi kita.

     Kedua penting untuk melihat bagaimana komunikasi dan interaksi terjalin. Lingkungan yang sehat di tandai dengan keterbukaan, sikap saling mendukung, dan adanya ruang untuk orang lain berpendapat. Dengan lingkungan semacam ini akan membuat kita aman, di terima, dan di hargai. Sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang penuh tekanan, diskriminasi, atau bahkan perundungan, hal itu akan mengikis rasa percaya diri dan merusak kesehatan mental.

     Selanjutnya, kita perlu menilai apakah lingkungan tersebut mampu mendorong perkembangan diri. Lingkungan yang baik tidak hanya membuat kita aman dan nyaman tetapi juga memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik. Misa berada di lingkungan yang orangnya rajin belajar semangat akan mendorong kita untuk ikut bersemangat dalam belajar.

     Selain itu, perhatikan apakah lingkungan tersebut memiliki dukungan  social yang kuat. Dukungan social mencangkup emosional, motivasi, maupun pertolongan nyata saat menghadapi kesulitan. Lingkungan sehat pasti akan memberikan nasihat dan dorongan positif.

     Cara lain untuk menilai kualitas dari lingkungan social yang sehat adalah dengan melihat keseimbangan antara kewajiban dan kebebasan pribadi. Lingkungan yang sehat akan menghargai perbedaan, tidak memaksa seseorang untuk sama, serta memberikan kebebasan dalam batas wajar. Hal ini penting untuk menjadi diri sendiri tanpa kehilangan kebersamaan.

     Menghindari lingkungan yang merugikan, penuh konflik, toksix, banyak masalah, dan menghambat perkembangan diri adalah keputusan yang bijak dan pemberani, karena banyak orang yang takut keluar dari sebuah lingkungan yang buruk dan bahkan banyak yang sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang buruk yang tidak sadar terus membuat kerugian untuk diri sendiri dan orang lain.

     Maka buatlah control terhadap diri dengan berada di lingkungan yang baik atau sehat, dengan lingkungan yang sehat akan membentuk pribadi yang kuat, bahagia, dan bermanfaat.  Dengan memilih lingkungan akan menjadi control terbaik untuk diri dapat mencapi tujuan yang di inginkan. Sosial

Pengertian lingkungan sosial menurut beberapa ahli seperti Stroz yang berpendapat lingkungan sosial adalah semua kondisi disekitar dalam kehidupan dimana terdapat cara-cara tertentu yang dapat mempengaruhi tingkah laku individu, termasuk pertumbuhan dan perkembangan pada proses kehidupan, serta dapat pula dipandang sebagai bekal persiapan lingkungan bagi generasi yang selanjutnya atau generasi penerus, sedangkan menurut Purwanto arti lingkungan sosial adalah setiap orang atau individu lain yang saling mempengaruhi dalam sebuah kehidupan sehari-hari. Didalam lingkungan sosial manusia membentuk pengelompokan sosial diantara sesama dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan. Dalam satu kehidupan sosial manusia juga memerlukan organisasi yaitu sekolah, kelompok masyarakat dan lain sebagainya. Artinya lingkungan sosial adalah interaksi sosial yang terjalin antara seseorang dengan orang lainnya atau sekelompok orang yang dapat memberi pengaruh dan dipengaruhi. Contohnya lingkungan sosial dalam kehidupan sehari hari seperti keluarga dan masyarakat, struktur keluarga yang meliputi ayah, ibu, anak menjadi bagian penting dari sebuah lingkungan sosial yang secara langsung berhubungan antar individu, sedangkan masyarakat sekitar merupakan lingkungan sosial yang dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kepribadian anak diantaranya teman sebaya atau sepermainan, tetangga, dan orang-orang yang dekat dan berinteraksi dengan anak.

Lingkungan akan mampu membangun kognitif, afektif, dan bahkah pesikomotorik seseorang baik individu ataupun kelompok, namun disisi lain lingkungan tercipta oleh seseorang ataupun kelompok. Seperti yang di kemukakan (Weick,1979) suatu bagian penting perilaku organisasi adalah bagaimana para peserta menciptakan lingkungan dan bagaimana penciptaan tersebut mempengaruhi perilaku mereka. Artinya dalam suatu organisasi sekalipun lingkungan yang mereka buat akan mempengaruhi pikiran yang termanivestasikan dalam sebuah tindakan mereka sediri.

Haltersebut menggabungkan atara dua pandangan yaitu pandangan yang menyatakan bahwa budaya organisasi perlu dan dapat di kelola namun pandangan lain justru menyatakan bahwa budaya organisasi adalah sebuah peroses emergent yang tidak dapat di kontrol (Martin, 1985).

(Sedarmayanti 2014:9) analisis lingkungan merupakan suatu proses yang di gunakan perencana strategi untuk memantau sektor lingkungan dalam menentukan peluang atau ancaman terhadap suatu organisasi. (Jauch dan Glueck 1994:87) analisis lingkungan melibatkan sejumlah upaya memilah secara utuh menjadi bagian untuk mengetahui sifat dasar, fungsi dan hubungannya. Maka dengan analisis lingkungan, suatu perencana strategi organisasi dapat memiliki kesempatan untuk memgantisipasi atau memanfaatkan peluang dan menyusun strategi dalam mengantisipasi ancaman.

Analisis lingkungan berusaha mengetahui implikasi manajerial yang di timbulkan baik langsung maupun tidak langsung terhadap prospek organisasi sehingga manajemen memiliki gambaran untuk menyiapkan strategi yang di perlukan guna mengantisi pasi implikasi manajerial yang di timbulkan oleh lingkungan. 

(Asrinaldi 2012:2) terlihat jelas bahwa fenomena kehidupan perekonomian penuh dengan masalah sosial seperti, kemiskinan, pengangguran,perumahan kumuh (Slum), pemukiman liar (sequatter settlement), jarak sosial (social group) antar kelompok masyarakat yang lebar, kriminalisasi, pelacuran, kesenjangan ekonomi, hingga kemasalah politis. Gejala kehidupan seperti ini jelas membawa dampak terhadap individu baik secara kognitif, afektif, dan bahkan pesikomotorik. Dengan demikian berbagai peneliti beranggapan bahwa keadaan lingkungan seseorang membentuk sikap seseorang yang seringkali di wujudkan dalam bentuk tindakan, termasuk dalam hal ini respons individu terhadap gejala politik di sekitar mereka.

Partisipasi  masyarakat miskin baik kota atau pedesaan terhadap politik cendrung tidak otonom melainkan berubah dalam bentuk mobilisasi. Artinya adanya faktor politik masyarakat individu yang di sebabkan dari luar seperti lingkungan budaya dan hukum yang memaksa mereka untuk satu pintu yang sudah di kendalikan atau di sediakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kepentingan dari pintu tersebut. 

Maka kondisi lingkungan seseorang akan dapat menjadi salahsatu faktor yang mempengaruhi pemikiran, tindakan, bahkan ucapan seseorang untuk tumbuh dan berkembang dengan baik atau tidak. Hidup dalam kondisi lingkungan yang terbatas dan masyarakat yang menyerah dengan menerima atau beradaptasi dengan suatu keadaan yang ada dapat mempengaruhi seseorang untuk ikut menyerah dan menerima keadaan atau situasi yang ada.

Kasus yang kerap menjadi fenomena dalam organisasi atau kelompok adalah ketika adanya masalah dalam lingkungan organisasi dapat mempengaruhi kehidupan peribadi seseorang seperti suka melamun, mudah marah, sensitif, dan lain sebaginya yang bahkan di lampiaskan kepada orang di sekitarnya dan sebaliknya saat masalah peribadi mempengaruhi kehidupan di lingkung organisasi, komunitas atau pekerjaaan seperti tidak fokus, kehilangan semangat, dan lain sebagainya akan berdampak kepada tingkat kesuksesan peribadi dan kelompok. Artinya lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan orang lain dan kehidupan orang lain dapat mempengaruhi lingkungannya.

Maka ketika kita sudah membangun kehidupan peribadi kita menjadi peribadi yang lebih baik untuk dapat menciptakan keseimbangan kehidupan yang lebih baik adalah dengan merubah lingkungan menjadi lebih baik, dengan adanya keseimbangan kehidupan yang baik akan mendorong kesejahteraan dari seseorang secara menyeluruh. Dengan memberi kontribusi perbaikan lingkungan secara pribadi akan menambah kekuatan perbaikan atas dirinya sendiri yang disebabkan oleh terbentuknya gotong royong dan saling tolong menolong.

Lingkungan sekitar adalah tempat kedua setelah rumah atau keluarga bagi seseorang untuk mencari kenyamanan, pertolongan dan sebagainya untuk dapat menyelesaikan problematika yang di hadapi. Pengaruh lingkungan sekitar bukan hanya dapat memberi dampak positif seperti memberi semangat, pertolongan dan lain sebagainya bagi seseorang namun juga dapat memeberikan dampak atau pengaruh negatif seperti berpikir pesimis, ikut menyerah dan menerima suatu keadaan, kehilangan semangat dan lain sebagainya. Maka dari semua pengaruh tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial dapat mempengaruhi baik prilaku hingga emosional dari seseorang.

Memiliki lingkungan sosial yang baik adalah salah satu yang dapat mendukung seseorang dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik, seseorang akan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan ketika seseorang tersebut sudah memiliki pengendalian diri atau kepribadian yang baik dan kuat, karena seseorang yang baik akan tetap dapat terpengaruh lingkungan yang buruk tanpa adanya pengendalian diri yang baik. Dari semua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan dapat memberikan sebuah pengaruh kepada seseorang untuk mampu mengendalikan diri atau tidaknya, maka sangat penting bagi seseorang memiliki lingkungan yang dapat mendukung dalam perbaikan diri agar dapat mempercepat dan memperkuat seseorang mengendalikan dirinya untuk merubah situasi dan kondisi yang sedang dialami menjadi lebih baik.

Berada dilingkungan orang-orang yang malas, kriminal, dan prihal buruk lainnya akan dapat mempengaruhi individu yang ada didalamnya dan individu dapat mempengaruhi lingkungannya maka kemiskinan akan dapat dipengaruhi oleh lingkungan namun lingkungan juga yang dapat membuat seseorang keluar dari kemiskinan. Berada dipenjara dengan berada di pesanten akan memiliki pengaruh perubahan kepada seseorang, penjara dapat membuat seseorang tersadar dan bertobat namun lebih mendominasi seseorang dapat berbuat keriminal lainya lagi akibat lingkungan sosial yang ada di penjara berisi orang-orang kriminal. Begitupun sebaliknya pessantren tetap memiliki potensi seseorang menjadi buruk namun akan lebih dominan kearah positif karena interaksi sosial atau lingkungan sosial dalam pesanten berisi orang-orang yang sedang memperbaiki diri. Seperti yang diterangkan sebelumnya adanya budaya kemiskinan hingga menjadi sebuah tradisi kemiskinan yang dapat di budidayakan maka, budaya kemiskinan akan terlahir ketika sebuah kebiasaan yang buruk hingga terjaganya sebuah kemiskinan dan kebiasaan itu terwariskan secara turun temurun hingga mudah dibudidayakan atau dimanfaatkan oleh seseorang. Maka mulailah perbaiki lingkunga sekitar atau mencari lingkungan yang lebih baik untuk dapat memperbaiki diri. Pada pembahasan berikutnya adalah sebuah budaya yang dapat mempengaruhi pengendalian diri seseorang dan menjaga kemiskinan tetap ada hingga terwariskan.

Pergaulan, Sama halnya dengan lingkungan social, pergaulan dapat memberi pengaruh terhadap control, hanya sekup yang di jalani lebih kecil dan menjuru. Setiap manusia lahir dengan potensi, bakat, dan jalan hidup yang berbeda. Namun, satu hal yang sama di miliki oleh semua orang adalah kebutuhan untuk bersosialisasi. Sejak kecil kita belajar berbicara, meniru kebiasaan, hingga membentuk polapikir melalui interaksi dengan orang-orang di sekitar. Tidak heran pepatah mengatakan : ”Jika ingin memelihat karakter seseorang, lihat siapa teman bergaulnya”.

     Pergaulan adalah salah satu factor paling kuat yang mempengaruhi kualitas diri. Orang yang berada di lingkungan baik cendrung terdoronguntuk mengembangkan potensi positif, sementara mereka yang terjebak didalam pergaulan buruk lebih rentan kehilangan kendali diri. Mengontrol diri memang tugas pribadi, tetapi lingkungan social menjadi pagar yang menentukan seberapa mudah atau sulitnya kita menjaga kendali tersebut.

     Mengontrol diri berarti kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya baik pikiran ucaapan maupun tindakan.sedangkan pergaulan adalah jendela dunia kita, orang-orang di sekitar kita ibarat mahnet: mereka bisa menarik kita kea rah yang positif atau negative dan beberapa alasan pergaulan dapat mempengaruhi diri.

1.             Kebiasaan menular.

Seseorang yang terbiasa berada di lingkungan yang disiplin, rajin belajar, atau peduli pada kesehatan akan lebih mudah terbawa kebiasaanyang ada di lingkungan tersebut.

2.             Tekanan social.

Pergaulan akan mampu memberikan tekanan social baik ataupun positif, berada di lingkungan yang baik akan mendorong kita untuk menjadi lebih baik.

3.             Teladan dan inspirasi.

Teman atau orang-orang di sekitar kita sering menjadi teladan. Melihat seseorang yang mencapai keberhasilan membut kita dapat terinspirasi agar dapat mencapai keberhasilan yang sama bahkan melebihginya.

4.             Dukungan emosional.

Control diri membutuhkan energy mental. Lingkungan yang baik memberikan dukungan, mendengarkan, serta memberikan nasihat saat kita goyah. Dukungan semacam ini membuat kita lebih kuat menjaga diri.

     Untuk dapat mengontrol diri dengan efektif, kita perlu memastikan bahwa pergaulan kita memang sehat. Ciri-ciri pergaulan yang baik adalah berada di lingkungan yang saling menghargai, mendorong kearah yang positif, menjaga batasan dan privasi, salaing mendukung di masa sulit saling berbagi di masa jaya, mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

     Dampak positif mengontrol diri dengan pergaulan yang baik:

1.             Kehidupan lebih terarah- tujuan hidup lebih jelas karena tidak terganggu dengan kebiasaan buruk.

2.             Hubungan social harmonis, orang lain lebih nyaman berada di sekitar kita karena kita berada di lingkungan yang nyaman dan aman.

3.             Prestasi meningkat, focus disiplin dan dorongan membuat kita dapat berkembang dan terus memperbaiki diriu.

4.             Kesehatan mental setabi. Dengan dukungan social yang baik dapat membantu mengurangi stress dan rasa kesepian

5.             Terhindar dari masalah hukum dan moral, pergaulan yang baik akan membawa kita ke hal yang positif dan menghindari hal-hal yang negative.

Namun terkadang ketika kita berada di lingkungan yang sehat masih ada tantangan yang membuat pergaulan atau lingkungan menjadi buruk, sepertirasa ingin di akuai, kebiasaan lama, dan lingkungan campuran. Hal-tersebut dapat membuat seseorang ingin kembali atau terdorong ke lingkungan yang buruk kembali dan parahnya mampu menciptakan lingkungan yang buruk sendiri (menjadi racun untuk lingkungan yang baik).