Penulis : Fahmi Reza Dwi Hartanto, M.E
Judul: Penyakit Negeri Menusuk Bagai Duri
Tahun Terbit: September 2025
Isi Novel : BAB 1-25
Kepada negeri yang pernah terluka, kepada rakyat kecil yang suaranya terkubur dalam debu, kepada anak-anak yang lahir dengan harapan baru.
Bab 1
Langit tampak muram, seakan ikut menangis bersama bumi. Angin membawa aroma getir dari ladang yang gersang, dari sungai yang tercemar, dari pasar yang kehilangan riuhnya. Negeri ini berjalan pincang, darahnya penuh racun, urat nadinya kering karena diisap tanpa ampun. Mereka yang duduk di kursi tinggi menabuh kata “mengabdi”, namun di balik bibir mereka, terjalin senyum palsu yang menutupi kerakusan.
Rakyat berjalan gontai, menahan lapar dengan doa yang tak kunjung dijawab.
Anak-anak kurus berlari tanpa tenaga, bermain dengan debu karena mainan telah lama dijual demi sesuap nasi.
Para ibu duduk di pinggir jalan, menatap kosong, seperti bunga yang layu sebelum sempat mekar.
Semua ini bukan sekadar krisis, melainkan penyakit yang menusuk bagai duri—tersembunyi, namun melukai setiap langkah.
Negeri ini berdiri di atas luka, dan luka itu semakin dalam. Namun dari luka pula, mungkin, akan lahir perlawanan.
Bab 2
Pasar bukan lagi tempat riang tawar-menawar. Kini pasar adalah altar kesedihan.
Teriakan pedagang bukan untuk menarik pembeli, melainkan jeritan agar barang dagangan tak busuk sebelum laku.
Harga-harga melonjak bagai badai, menghempaskan harapan rakyat kecil.
Di sudut pasar, seorang anak kecil menatap singkong dengan mata berbinar, namun tangan ibunya menggenggam erat, seakan tahu tak ada cukup uang untuk membeli.
Tangis tertahan di dada, berubah menjadi bisikan doa: semoga esok ada rezeki.
Rakyat bicara pelan, saling berbisik: siapa yang salah? Mengapa negeri ini jatuh sedalam ini?
Namun suara-suara itu segera padam, karena ketakutan lebih kuat dari keberanian.
Mereka tahu, ada telinga yang mengintai, siap menuduh siapa pun yang berani bersuara.
Bab 3
Di sebuah kamar sempit, lampu redup menemani seorang pemuda bernama Damar.
Tangannya gemetar, tapi matanya menyala. Pena di tangannya bergerak laksana pedang, menorehkan kata-kata yang lahir dari amarah dan cinta. “Setiap kata adalah peluru,” tulisnya, “dan setiap kalimat adalah api.”
Damar menyaksikan sendiri bagaimana ibunya menjual kain terakhir miliknya, bagaimana ayahnya menyerah pada takdir, dan bagaimana adik-adiknya menatap piring kosong.
Semua ini menoreh luka, dan dari luka itu Damar memilih menulis. Ia percaya, kata-kata mampu menyalakan nyala api yang lebih dahsyat daripada senjata.
Namun ia tahu, kata-katanya adalah bahaya. Risman, seorang pejabat yang dikenal licin,
selalu mengintai siapa pun yang berani bicara. Dan nama Damar, perlahan mulai terdengar.
Bab 4
Di pasar yang penuh kelaparan itu, ada seorang perempuan muda bernama Sinta.
Ia tak menjual makanan, melainkan harapan. Dengan tangan sederhana, ia mengajar anak-anak menulis huruf di atas pasir.
Ia percaya, meski perut kosong, pikiran tak boleh ikut kelaparan.
Anak-anak tertawa kecil di sekelilingnya, meski baju mereka lusuh.
Mereka belajar menulis kata “adil”, “bebas”, “harapan”.
Bagi Sinta, mengajar bukan sekadar ilmu—ini adalah bentuk perlawanan paling sunyi, namun juga paling berani.
Orang-orang pasar mulai mengenal Sinta sebagai cahaya kecil di tengah gelap.
Mereka tahu, di balik kelembutannya, ia menyimpan tekad yang keras. Ia tak takut dicibir, tak takut dicurigai. Karena baginya, cinta pada negeri ini bukan sekadar slogan, melainkan janji.
Bab 5
Takdir mempertemukan Damar dan Sinta.
Di sebuah sore yang muram, di sudut pasar yang penuh debu, mata mereka beradu. Damar sedang menyalin catatannya, sementara Sinta mengajar anak-anak menulis.
Sekilas, mereka hanya dua orang biasa, namun dalam jiwa mereka tersimpan api.
Damar melihat keteguhan Sinta, dan Sinta merasakan luka Damar.
Keduanya saling tahu: mereka sama-sama tak rela negeri ini dibiarkan mati perlahan.
Dalam tatapan pertama itu, seakan lahir janji tanpa kata—janji untuk melawan, janji untuk berdiri meski duri menancap semakin dalam.
Pertemuan itu bukan sekadar kebetulan, melainkan panggilan zaman.
Dan dari titik inilah, sebuah cerita panjang akan bermula:
kisah tentang cinta, luka, dan perlawanan
Bab 6 – Gelombang Kelaparan
Hari-hari berikutnya negeri seolah berubah menjadi padang sunyi. Sawah retak bagai kulit tua, ladang jagung gosong terbakar terik. Pasar yang dulu riuh kini menyerupai makam terbuka: sunyi, dingin, dan menyimpan bau busuk barang-barang yang tak laku.
Kelaparan bukan lagi cerita, melainkan wajah nyata di setiap gang. Anak-anak duduk di tepi jalan dengan mata cekung, menatap orang-orang berlalu tanpa daya. Para ayah pulang membawa tangan kosong, sementara ibu-ibu hanya bisa menahan tangis di balik kerudung lusuh.
Namun dari keputusasaan itu, terdengar bisikan yang makin sering bergaung. Bisikan tentang perubahan, tentang melawan. Kata-kata kecil yang awalnya bergetar, kini mulai membara, seperti bara di bawah abu yang menunggu hembusan angin.
Bab 7 – Intrik Para Penguasa
Sementara itu, di balik dinding marmer istana, dunia berjalan sebaliknya. Gelas kristal beradu, tawa melengking menembus malam, daging impor tersaji di piring emas. Arsena, sang penguasa, duduk di singgasananya dengan perut penuh, membual tentang kemajuan.
“Rakyat kita sabar,” katanya sambil tersenyum sinis. “Mereka sudah terbiasa menderita.”
Di sampingnya, Risman—pejabat yang wajahnya licin bagai cermin berdebu—menunduk hormat sambil menyusun siasat. Laporan inflasi dipoles, berita kelaparan disembunyikan, dan siapa pun yang berani bicara dicatat dalam daftar hitam.
Mereka menyebutnya “stabilitas”, padahal hakikatnya adalah kebisuan yang dipaksakan. Di ruang megah itu, negeri seolah hanya papan catur, rakyat sekadar bidak yang bisa dikorbankan.
Bab 8 – Pertemuan Rahasia
Di gubuk reyot di ujung pasar, sebuah lentera kecil menyala. Di dalamnya, Damar duduk bersama pedagang sayur, buruh pelabuhan, dan guru desa yang gajinya tak pernah cair. Wajah mereka keras, tapi mata mereka penuh harapan.
“Kalau kita terus diam, kita hanya menunggu mati,” ujar Damar. Suaranya gemetar tapi tegas.
Sinta berdiri di tengah lingkaran, matanya bercahaya meski cahaya lampu hampir padam. “Kita mungkin kecil, tapi suara kita bisa jadi gelombang. Gelombang kecil bisa meruntuhkan karang yang paling keras.”
Hening. Hanya detak jantung yang terdengar. Namun di udara ada sesuatu yang baru: keyakinan bahwa meski mereka tak punya senjata, mereka punya suara. Dan suara, bila menyatu, bisa menggetarkan tembok kekuasaan.
Bab 9 – Kata-Kata Menjadi Senjata
Malam itu Damar begadang. Pena di tangannya menari di atas kertas lusuh, menulis kalimat yang membakar:
"Bangunlah! Negeri ini sakit oleh tangan-tangan rakus! Diam adalah mati, bersuara adalah hidup!"
Sinta menggenggam selebaran itu, lalu membagikannya pada anak-anak pasar. Anak-anak kecil berlari lincah, menyelipkan kertas di bawah pintu rumah, di lipatan kain, di tumpukan sayuran.
Keesokan paginya, pasar bergemuruh. Orang-orang menggenggam selebaran, membaca dengan mata berkilat. Ada yang ragu, ada yang takut, tapi banyak pula yang untuk pertama kalinya merasakan keberanian mengalir di nadi mereka.
Kata-kata Damar berubah menjadi peluru. Dan peluru itu ditembakkan ke hati rakyat yang lama dibungkam.
Bab 10 – Bayangan Pengkhianatan
Namun setiap nyala api menarik bayangan. Risman mencium aroma perlawanan. Ia mengirim mata-mata menyusup ke pasar, menguping di setiap bisikan, menguntit di setiap langkah.
Beberapa rakyat yang takut mulai goyah. Iming-iming uang dan keselamatan membuat sebagian rela menjual suara. Dari bibir mereka, informasi mengalir ke telinga penguasa.
Damar dan Sinta merasakan tatapan asing, langkah-langkah yang membuntuti. Hati mereka waspada, tapi tekad tak surut. Mereka tahu bahaya kian dekat, tapi mereka juga tahu: api yang sudah menyala, tak bisa lagi dipadamkan hanya dengan air ancaman.
Mereka berjalan pulang malam itu dengan perasaan seolah setiap bayangan adalah musuh. Dan benar saja—pengkhianatan sudah mulai berakar, menunggu saat untuk menusuk.
Bab 11 – Tangan yang Membisikkan Takut
Malam kian pekat ketika kabar selebaran itu sampai ke telinga para penguasa. Arsena menatap Risman dengan wajah geram, bagai singa yang terusik di sarangnya.
“Siapa yang berani menantang kita dengan kata-kata murahan itu?” suaranya bergetar, penuh amarah.
Risman, dengan senyum tipis, menjawab:
“Tak usah khawatir, Tuan. Kata-kata hanyalah asap. Kita hanya perlu meniupnya sebelum jadi api.”
Namun di luar tembok istana, rakyat membaca kata-kata itu seperti doa. Rasa takut masih menghantui, tapi perlahan berubah menjadi keyakinan. Mereka mulai berbisik di warung kopi, di sawah, di dermaga: “Ada yang berani bersuara… mungkin kita juga bisa.”
Bab 12 – Bayangan di Pasar Malam
Damar berjalan di keramaian pasar malam, menyaksikan wajah-wajah yang penuh harap sekaligus cemas. Sinta menemaninya, menggenggam tangannya erat.
“Apakah kita siap menghadapi apa pun yang akan datang?” tanya Sinta.
“Kita tak pernah benar-benar siap,” jawab Damar lirih. “Tapi lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.”
Di antara sorak penjual mainan dan teriakan pedagang makanan, ada mata-mata yang mengintai. Bayangan itu mengikuti langkah mereka, mendekat pelan-pelan. Rakyat bersorak gembira, tapi di balik tawa itu, ketegangan merayap seperti ular di rerumputan.
Bab 13 – Api yang Merambat
Selebaran Damar tak lagi sekadar kertas. Ia menjelma nyala yang merambat dari satu desa ke desa lain. Guru desa membacakannya di kelas dengan suara bergetar. Buruh pelabuhan menempelkannya di dinding kayu. Petani menyelipkannya di kantong karung padi.
Suara kecil berubah menjadi gema, gema berubah menjadi gelombang.
Namun bersamaan dengan itu, Risman mengerahkan tangan besinya. Polisi rahasia bergerak dalam senyap. Satu per satu orang yang ketahuan menyimpan selebaran ditangkap, dibawa tanpa jejak. Rumah-rumah menjadi hening, hanya menyisakan kursi kosong dan isak keluarga.
Bab 14
Suatu malam, kabar buruk datang. Joko, seorang buruh yang dulu hadir dalam pertemuan rahasia, ditemukan tergeletak di jalan dengan wajah lebam dan tubuh tak bernyawa.
Tangisan istrinya mengguncang pasar, membuat orang-orang terdiam.
Sinta memeluk Damar, tubuhnya gemetar. “Apakah ini harga dari semua yang kita lakukan?”
Damar menatap langit yang kelam. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya. “Tidak, Sinta. Inilah bukti bahwa mereka takut. Dan kalau mereka takut, berarti kita berada di jalan yang benar.”
Malam itu, luka pertama tercatat. Namun luka itu bukan membuat mereka mundur, melainkan mengikat mereka lebih erat.
Bab 15 – Nyala di Bawah Bintang
Di tepi sungai, jauh dari mata-mata penguasa, rakyat kembali berkumpul. Lentera-lentera kecil menyala, memantulkan cahaya di permukaan air yang beriak.
Damar berdiri di tengah lingkaran, suaranya mantap:
“Kita mungkin tak punya senjata. Kita tak punya uang. Tapi kita punya kebenaran. Dan kebenaran akan selalu menemukan jalannya.”
Sinta melanjutkan dengan suara lembut namun tajam:
“Kita adalah bintang-bintang kecil. Sendiri kita redup, tapi bila kita bersatu, kita bisa mengalahkan gelap.”
Rakyat menatap langit, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka melihat harapan di antara bintang-bintang.
Bab 16 – Ombak yang Menyatu
Malam di pelabuhan dipenuhi desau angin laut yang membawa kabar bisu. Buruh, nelayan, dan pedagang berkumpul dalam lingkaran cahaya obor. Wajah mereka keras oleh garam laut dan debu pasar, namun mata mereka berkilat bagai bara yang menunggu tiupan.
“Cukup sudah kita jadi bayangan di tanah sendiri,” kata seorang nelayan dengan suara serak.
Damar menatap mereka, suaranya lirih namun tajam, “Kita bukan bayangan. Kita cahaya yang lama dipadamkan. Jika kita menyatu, tak ada tembok yang bisa menahan.”
Sorak kecil meletup. Ombak laut yang menghantam dermaga seakan menjawab: rakyat mulai menyatu menjadi arus.
Bab 17 – Perjamuan Para Serigala
Di dalam istana, Arsena menggelar pesta. Musik berdenting, gelas anggur terangkat tinggi, dan tawa para pejabat pecah seperti suara kaca jatuh.
Risman berbisik ke telinga Arsena, “Suara-suara kecil itu mulai mengganggu. Tapi percayalah, Tuan, setiap mulut bisa dibungkam dengan emas, dan setiap suara bisa padam dengan ketakutan.”
Arsena tertawa, tapi di matanya ada kegelisahan samar. Ia tahu api sudah menyala. Dan meski ia punya seribu serigala, sekali api itu menjalar ke padang kering, mustahil ia bisa memadamkannya tanpa terbakar.
Bab 18 – Langkah di Jalan Gelap
Malam itu, Damar berjalan pulang bersama Sinta. Di setiap sudut kota, mata-mata menunggu, mengintai, dan mengukur langkah.
“Apakah kau tak takut, Damar?” bisik Sinta.
“Takut itu selalu ada,” jawab Damar, “tapi lebih menakutkan bila anak-anak negeri ini tumbuh tanpa harapan. Itulah ketakutan yang lebih besar.”
Langkah mereka terasa panjang. Bayangan mengikuti dari belakang, tapi tangan Sinta menggenggam erat. Di dalam gelap, ada rasa gentar, tapi juga ada kekuatan yang justru lahir dari kebersamaan.
Bab 19 – Nyala di Desa Tertinggal
Di desa yang hampir dilupakan, kata-kata Damar sampai. Rumah-rumah kayu reyot berguncang bukan oleh angin, melainkan oleh semangat baru. Guru desa menyalakan pelita, lalu membaca selebaran dengan suara lantang di depan murid-muridnya.
“Negeri ini sakit oleh rakusnya para penguasa!”
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Para orang tua, yang tadinya pasrah, mulai menatap dengan api kecil di mata mereka.
Nyala itu menjalar, tak bisa lagi dibendung. Di setiap desa, obor kebenaran dinyalakan, meski tangan penguasa terus mencoba memadamkan.
Bab 20 – Runtuhnya Sunyi
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rakyat berani menyuarakan isi hati mereka di depan umum. Di pasar, di pelabuhan, di jalan kota, suara-suara kecil melebur menjadi satu:
“Cukup sudah! Kami bukan budak! Kami ingin hidup!”
Risman mendengar kabar itu dan wajahnya mengeras. Ia segera mengirim pasukan rahasia untuk memburu dalang di balik semua ini.
Namun bagi rakyat, sunyi telah runtuh. Mereka tak lagi takut pada bayangan. Dan ketika sunyi runtuh, suara rakyat menjelma gelombang yang mustahil dibendung.
Bab 21 – Bisikan Uang
Risman tahu: tak semua orang tahan dengan penderitaan. Ia menyusupkan uang, emas, dan janji keselamatan ke tangan rakyat yang rapuh.
“Jangan ikut-ikutan,” bisiknya kepada seorang pedagang. “Sebarkan saja di mana Damar dan kawan-kawannya berkumpul, dan kau akan aman.”
Banyak yang menolak, tapi ada yang goyah. Uang menjadi racun yang merayap pelan, menciptakan keretakan di tubuh perlawanan. Damar merasa ada tatapan yang tak lagi jujur, ada senyum yang tak lagi murni.
Bab 22 – Malam yang Retak
Di sebuah gubuk rapat rahasia, Damar berbicara dengan rakyat kecil. Sinta duduk di sisinya, menatap wajah-wajah penuh semangat.
Namun tiba-tiba, pintu digedor keras. Mata-mata penguasa menerobos masuk. Orang-orang panik, berlarian ke luar jendela. Suara teriakan bersahut-sahutan.
Damar sempat lolos bersama Sinta, tapi ia tahu: rahasia mereka mulai bocor. Malam itu bukan lagi sekadar malam; ia retak oleh pengkhianatan yang tak kasat mata.
Bab 23 – Darah di Jalan Batu
Pagi yang dingin berubah jadi ngeri. Seorang pemuda bernama Rahman, yang dulu bersumpah setia di hadapan Damar, ditemukan terkapar di jalan batu. Tubuhnya penuh luka, matanya menatap kosong ke langit.
Sinta menangis, menggenggam tangan kaku itu. Damar memejamkan mata, menahan amarah.
“Berapa banyak lagi darah yang harus tumpah sebelum mereka sadar?” bisiknya.
Namun darah itu bukan sekadar kehilangan. Ia menjadi tanda, menjadi bendera merah yang berkibar di hati rakyat. Mereka mulai sadar, tak ada jalan kembali.
Bab 24 – Senja yang Patah
Sore itu, langit memerah bagai luka. Damar berdiri di bukit kecil, menatap kota yang dikuasai penguasa rakus.
“Senja ini indah tapi juga pahit,” katanya kepada Sinta. “Seperti negeri kita—indah, tapi patah karena tangan-tangan serakah.”
Sinta menggenggam tangannya. “Mungkin kita tak bisa memperbaikinya dengan cepat. Tapi kita bisa mulai menanam benih. Meski kita tak sempat melihat pohonnya, anak-anak kita kelak akan memetik buahnya.”
Kata-kata itu menguatkan Damar. Di balik senja yang patah, lahir janji untuk terus melangkah.
Bab 25 – Jejak Pengkhianat
Risman tertawa puas di ruangnya. Laporan mata-mata sampai di tangannya: siapa berkumpul, di mana, dan kapan.
“Tak ada rahasia yang bisa disembunyikan dariku,” gumamnya.
Sementara itu, Damar mulai mencium jejak pengkhianat di lingkarannya. Tatapan mata yang menghindar, suara yang bergetar, dan langkah yang tak lagi yakin.
Namun ia tak bisa menuduh tanpa bukti. Ia hanya bisa berdoa dalam hati: semoga kebenaran tetap lebih kuat daripada kebusukan yang merayap masuk.

0 Komentar